Minggu, 21 April 2019
Beternak Ikan Cupang
I. PendahuluanIkan cupang
merupakan salah satu ikan hias yang mudah dipelihara. Budidaya ikan cupang
tidak memerlukan tempat luas dan modal yang besar. Bisa dilakukan sebagai usaha
rumahan.Ikan cupang
(Betta sp.) adalah ikan air tawar dari daerah tropis. Banyak
ditemukan di perairan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di alam bebas ikan ini
hidup berkelompok. Habitatnya ada di rawa-rawa, danau, dan sungai yang arusnya
tenang.Salah satu keistimewahan ikan cupang adalah daya tahannya.
Sanggup hidup dalam lingkungan air minim oksigen. Bisa dipelihara dalam toples
kecil tanpa menggunakan aerator. Kemampuan ini didapat karena ikan cupang
memiliki rongga labirin seperti pada paru-paru manusia. Labirin tersebut bisa
membuatnya bertahan pada lingkungan miskin oksigen.
Minggu, 07 April 2019
Beternak Ikan Koi
I. Pendahuluan
Ikan Koi ( Cyprinus
Carpio ) termasuk ke dalam
golongan ikan carp (karper) yang hidup di air deras sehingga membutuhkan air
yang jernih dan oksigen terlarut yang tinggi. Harga Koi sangat ditentukan
berdasarkan bentuk badan dan kualitas tampilan warna. Ikan koi pertama kali
dikenal pada dinasti Chin tahun 265 dan 316 Masehi. Koi dengan keindahan warna
dan tingkah laku seperti yang kita ketahui saat ini, mulai dikembangkan di
Jepang 200 tahun yang lalu di pegunungan Niigata oleh petani Yamakoshi.
Pemuliaan yang dilakukan bertahun-tahun menghasilkan garis keturunan yang
menjadi standar penilaian koi. Beberapa varietas yang tersebar ke seluruh dunia
digolongkan Asosiasi Koi Jepang (en Nippon Airinkai) menjadi 13 kelompok antara
lain: Bekko, Utsurinomo, Asagi-Shusui, Goromo, Kawarimono, Ogon dan
Hikari-moyomono. Sedangkan 5 golongan utama yaitu Kohaku, Sanke, Showa,
Hirarinuji dan Kawarigoi. Ikan koi termasuk ke dalam golongan ikan carp
(karper).Harga koi sangat ditentukan berdasarkan bentuk
badan dan kualitas tampilan warna.Ikan koi pertama kali dikenal pada dinasti Chin
tahun 265 dan 361 Masehi.Ikan Koi memiliki keindahan warna dan tingkah laku
seperti yang sudah kita ketahui, mulai dikembangkan di Jepang 200 tahun yang
lalu di pegunungan Niigata.
II. Klasifikasi, Morfologi Dan Habitat
A. Klasifikasi Ikan Hias Koi
|
KINGDOM
|
: AMALIA
|
|
Filum
|
: Cordata
|
|
Sub-Filum
|
:
Vertebrata
|
|
Class
|
:
Osteichtyes
|
|
Ordo
|
:
Cypriniformei
|
|
Family
|
:
Cyprinidae
|
|
Genus
|
: Cyprinus
|
|
Spesies
|
: Cyprinus
Carpio
|
B. Morfologi
- Tubuh ikan koi berbentuk
seperti torpedo dengan alat gerak berupa sirip.
- Ikan ko memliki sirip
yang lengkap yaitu sirip punggung, sepasang sirip dada, sepasang sirip
perut, sirip anus, dan sirip ekor.
- Sirip pada koi terdiri
atas jari-jari keras, jari-jari lunak, dan selaput sirip yang berfungsi
sebagai alat gerak.
- Sirip punggung memiliki 3
jari-jari keras dan 20 jari-jari lunak.
- Sirip perut memiliki
jari-jari lunak sebanyak 9 buah.
- Sirip anus memiliki 3
jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak.
- Pada sisi pertengahan batang badan sampai batang ekor mempunyai gurat sisi yang berguna sebagai penerima getaran suara.
- Garis ini terbentuk dari urat-urat yang ada di sebelah dalam sisik yang membayang hingga keluar
C. Habitat
Ikan koi hidup di perairan air tawar dengan iklim sedang. Koi dapat hidup pada suhu 8-30 °C, sehingga ikan koi dapat dipelihara pada daerah diseluruh Indonesia.
Pertumbuhan ikan koi tergantung pada suhu, air dan makanan. Ikan koi jantan akan kencapai dewasa kelamin pada umur 2 tahun sedangkan ikan koi betina dewasa kelamin pada umur 3 tahun.
Ada beberapa ciri khas pada ikan koi untuk membedakan antara jantan dan betina yaitu:
1. Perbedan bentuk badan. Koi jantan cenderung memiliki bentuk badan yang panjang dan kurus, sedangkan Koi betina memiliki bentuk badan yang lebih bulat.
2. Perbedaan pada bagian sirip. Sirip Koi Betina cenderung lebih besar tetapi memiliki warna yang lebih sedikit drngan ujung sirip yang lebih bulat. Sedangkan koi jantan memiliki sirip yang runcing pada bagian tepinya dan memiliki warna yang solid.
3. Bagian pipi koi jantan terdapat bintik-bintik putih, yang bisa dirasakan jika diraba terutama pada ikan dewasa
D. Syarat Hidup
Ø suhu air berkisar 24-260
C,
Ø pH 7,2-7,4 (agak
basa),
Ø oksigen minimal 3-5
ppm,
Ø CO2 max 10
ppm,
Ø nitrit max 0,2.
Ø Air yang digunakan harus
terdeklorinisasi/sudah disaring dan diendapkan 24 jam.
Ø Air yang digunakan untuk pemijahan
dan penetasan telur sebaiknya memiliki kandungan oksigen dan suhu yang stabil.
Ø Untuk menjamin tersedianya oksigen
dapat digunakan aerator
Ø sedangkan suhu pada bak pemijahan
diusahakan sama dengan suhu air kolam dengan tingkat perbedaan (fluktuasi)
kurang dari 50 C.
III. Teknik Pembenihan Ikan Koi
A. Pembenihan Ikan
1. Persiapan Kolam
Ø Kolam pemijahan tidak mungkin
menjadi satu dengan kolam taman.
Ø Kolam pemijahan harus mempunyai pintu
pemasukan dan pintu pengeluaran air tersendiri.
Ø Selain itu, seluruh kolam harus
diplester dan bisa dikeringkan dengan sempurna.
Ø Luas kolam pemijahan bervariasi.
Untuk kolam sempit dapat menggunakan kolam seluas 3-6 m2 dengan kedalaman 0,5
m.
Ø Lokasi kolam cukup mendapatkan sinar
matahari, tidak terlalu ribut, terlindung dari jangkauan anak-anak dan binatang
peliharaan lain.
Ø Jika mungkin, sediakan juga kolam
penetasan telur dan perawatan benih.
Ø Kolam penetasan, bentuknya bisa
persegi panjang atau bulat. Kalau kolam bulat, diameternya antara 1,5-2 m.
Ø Satu kolam lagi jika ada, yaitu
kolam untuk menumbuhkan pakan alami yang dipakai untuk lmensuplai pakan benih
jika kuning telurnya telah habis.
Ø Kedalaman kolam sekitar 30 cm. Luas
kolam antara 6-10 m2, cukup memadai
Ø Bagi yang memiliki uang cukup,
dinding kolam bisa dilapis vinil yaitu bahan yang biasa untuk membuat bak
fiberglass. Dengan lapisan vinil, kolam-kolam tersebut lebih terjamin
kebersihannya dan efek dari semen bisa dihilangkan.
2. Pemilihan Induk
Ø Induk yang baik adalah yang memiliki
pola warna bervariasi yang cerah simetris dengan bentuk tubuh seperti terpedo
dengan berat badan minimal 1 kg.
Kebanyakan pembudidaya memilih untuk membeli koi
berkualitas baik untuk calon induk dengan ukuran 5-8 cm yang harganya murah
untuk dibesarkan menjadi induk
3. Pelaksanaan Pemijahan
Ø Secara alami, carp memijah pada
musim semi dan menjadi matang gonad dengan menaikkan suhu air.
Ø Induk jantan dan betina ditempatkan
dalam wadah terpisah (untuk menghindari bertelur yang tidak diinginkan) dan
tidak diberi pakan selama beberapa hari.
Ø Koi dapat memijah secara alami dan
buatan yaitu dengan rangsangan hormon yang disuntikkan pada tubuh induk betina
untuk mempercepat proses pembuahan.
Ø Penyuntikan Pituitary Gland (PG,
nama dagang ovaprim) dengan dosis 0,2 mg/kg bobot ikan untuk satu kali
penyuntikan.
Ø Ovulasi akan terjadi 10 jam setelah
penyuntikan.
Ø Sistem pemijahan tanpa
pengurutan/stripping ini disebut pemijahan semi alami yang lebih aman karena
tanpa melukai ikan.
Ø Bila ikan sulit melakukan pemijahan
alami sehingga perlu bantuan proses pembuahan buatan, maka dilakukan pengurutan
telur dan sperma (stripping) yang merupakan pilihan terakhir.
Ø Induk betina dalam sekali pemijahan
dapat menghasilkan 75.000 telur/kg berat badan.
Ø Perbandingan jumlah induk dalam
proses pemijahan adalah 2 betina dan 1 jantan.
Ø Biasanya telur yang dikelurkan oleh
induk betina menempel pada substrat (injuk) yang segera dibuahi oleh sperma
jantan.
Ø Setelah telur dibuahi sebaiknya
dipisahkan dari induk, dengan memindahkan induk dari wadah pemijahan atau
sebaliknya telur yang diangkat dan dipindahkan kedalam wadah penetasan.
4. Penetasan telur
Ø Telur yang sudah dibuahi
akan menetas setelah 24-48 jam tergantung suhu.
Ø Selama penetasan, kepadatan telur adalah 1 kg
per 5 liter air.
Ø Larva yang baru menetas
belum memerlukan pakan selama 3-4 hari, karena masih mempunyai kantong kuning
telur.
5. Perawatan Larva
Ø Menjelang kuning telur
habis, perlu diberikan pakan alami berupa naupli artemia atau pakan alami
lainnya yang seukuran.
Ø Kemudian secara bertahap
dapat diberikan pakan buatan berupa butiran kering(pellet).
Ø Dalam 5 hari sesudahnya
1 juta larva memerlukan 7 kg artemia, atau sekitar 0,5-2 kg per hari.
Ø Pada tahap ini larva
ditebar pada kepadatan 20-40 larva/liter. Untuk menghasilkan 1 juta fingerling
memerlukan sekitar 25kg telur artemia. Sintasan selama 9 hari adalah 50-80%.
Ikan yang seberat 10 mg dapat dijual seharga US$ 0,25 atau sekitar Rp.
2.500,-.
Ø Larva yang berbobot 0,25
g diberikan pakan buatan (butiran) kering dan dapat didederkan ke kolam hingga
ukuran fingerling (2 gram).
6. Pendederan
Ø Pendederan terbagi atas
2 tahap yaitu pendederan I selama 2 bulan pemeliharaan hingga larva mencapai
ukuran fingerling (2-3 cm).
Ø Pendederan II dilakukan
dalam kolam yang diolah untuk menumbuhkan pakan alami dan dilakukan seleksi dan
penjarangan (mengurangi kepadatan).
Ø Penjarangan bertujuan untuk memberi ruang
gerak yang cukup bagi ikan koi. Seleksi bertujuan untuk mendapatkan ikan Koi
berkualitas baik.
Ø Waktu yang diperlukan
dari telur hingga mencapai ukuran fingerling (2 gram) adalah 6-8 minggu dengan
nilai sintasan (SR) 55%.
Ø Sedangkan untuk mencapai
ukuran 5-8 cm diperlukan waktu 4 bulan.
Ø Kualitas ikan koi (pola
dan warna) bergantung dari tetuanya.
Dari hasil seleksi ukuran
fingerling, yang afkir mencapai 25-50%. Dari 1 juta telur dapat dihasilkan
225.000-338.000 ekor fingerling berkualitas baik (22–33
Sumber :
Selasa, 19 Maret 2019
TEKNIS BUDIDAYA IKAN DISAWAH BERSAMA PADI
I. PENDAHULUAN
II. KEUNTUNGAN MINAPADI
III.TEKNIS BUDIDAYA MINAPADI
A. Pembuatan Parit/Caren
a). Bibit ikan ditebar setelah tanaman
padi berumur 14 hari (2 minggu). Untuk 1000 m2 lahan sawah diperlukan bibit
ikan sebanyak 1200 – 1500 ekor bibit.
Sumber :
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41481560
Mina Padi
adalah usaha budidaya ikan di sawah yang dilakukan secara bersamaan dengan
tanaman padi dalam suatu areal yang sama. Dengan kata lain sambil menyelam
minum air, usaha padi lancar, budidaya ikan pun lancar. Salah satu optimalisasi potensi
lahan sawah irigasi dan peningkatan pendapatan petani adalah dengan merekayasa
lahan dengan teknologi tepat guna. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan
mengubah strategi pertanian dari sistem monokultur ke sistem diversifikasi
pertanian, salah satunya adalah dengan menerapkan teknologi budidaya Mina Padi
dengan sistim tanam jajarlegowo. Dengan adanya pemeliharaan ikan di persawahan
selain dapat meningkatkan keragaan hasil pertanian dan pendapatan petani juga
dapat meningkatkan kesuburan tanah dan air juga dapat mengurangi hama penyakit
pada tanaman padi.
Sistem usaha tani minapadi telah
dikembangkan di Indonesia sejak satu abad yang lalu (Ardiwinata, 1987). Selain
menyediakan pangan sumber karbohidrat, sistem ini juga menyediakan protein
sehingga cukup baik untuk meningkatkan mutu makanan penduduk di pedesaan
(Syamsiah et all. 1988).Dengan teknologi yang tepat, minapadi dapat
memberi pendapatan yang cukup tinggi. Keuntungan yang didapat dari usahatani
minapadi berupa peningkatan produksi padi dan ikan, mengurangi penggunaan
pestisida, pupuk anorganik, penyiangan dan pengolahan tanah
(Suriapermana, et all., 1994)
Rekayasa teknik tanam padi dengan cara tanam jajar
legowo 2:1 atau 4:1, berdasarkan hasil penelitian terbukti dapat meningkatkan
produksi padi sebesar 12-22%. Disamping itu sistem legowo yang memberikan ruang
yang luas (lorong) sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan
(minapadi legowo). Hasil ikan yang diperoleh mampu menutup sebagian biaya
usahatani, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani
II. KEUNTUNGAN MINAPADI
Minapadi yang merupakan integrasi antara pertanian dan budidaya ikan dalam
satu lahan dapat meningkatkan omzet para petani sampai tiga kali lipat. Akan
tetapi, tak banyak petani yang dengan mudah beralih ke mina padi. padi biasa
(keuntungan) per 1.000 (meter) itu sampai 1,5 sampai 2 juta itu sudah bagus,
untuk mina padi keuntungan 4—5 juta jadi sekitar 3 kali lipat,” secara ekonomi
keuntungan petani dapat meningkat tergantung dari komoditasnya.
“Kalau dengan udang galah bisa besar lagi, bisa
menghasilkan 1—2 ton per hektare dengan harga sekitar 90 ribu untuk size 40
sentimeter, bisa mencapai keuntungan 80—100 jutaan
Usahatani minapadi memiliki keunggulan antara lain secara tidak langsung
telah menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Ikan membantu memakan
binatang-binatang kecil yang merupakan hama tanaman padi (carnivora) dan juga
gulma kecil pada lahan sawah.
Pada sore hari ketika ikan menggoyang-goyangkan tanaman padi, serangga yang
hinggap pada padi akan terbang kemudian dimangsa oleh burung layang-layang;
selain itu, dengan pemanfatan lahan secara tumpangsari dengan tanaman padi dan
ikan di sawah, maka produktivitas lahan akan meningkat;
Keuntungan lainnya adalah dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan
air. Pada kegiatan minapadi, kotoran ikan merupakan sumber pupuk organik bagi
tanaman padi. Rendahnya pemakaian pupuk oleh petani karena adanya korelasi
ekologis antara penanaman ikan dengan peningkatan kesuburan tanah. Kotoran ikan
dan sisa makanan menjadi pupuk dan menghemat keperluan pupuk sekitar 20-30%;
Dengan menerapkan usaha minapadi juga mampu mengurangi pemakaian
insektisida dan pertumbuhan rumput. Hal ini terjadi karena terciptanya hubungan
yang harmonis antara padi, ikan, air, dan tanah. Minapadi dapat meningkatkan
efisiensi tenaga kerja yang dicurahkan dalam pengelolaan minapadi terutama
dalam pemupukan, penyemprotan, dan penyiangan.
Meningkatkan hasil setara padi dan distribusi pendapatan. Melalui minapadi,
sumber pendapatan petani tidak hanya dari padi tetapi juga dari ikan yang bisa
sering dipanen. Dengan demikian, minapadi selain memperkuat dan meningkatkan
sumber dan besarnya pendapatan petani, sekaligus juga meingkatkan distribusi
pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
MInapadi juga mendukung peningkatan ragam protein hewani, serta menyediakan
lapangan kerja baru. Kegiatan minapadi akan menciptakan usaha baru seperti
usaha pendederan bibit ikan, usaha pemasaran ikan dan juga pengolahan ikan.
Dari sisi lingkungan, minapadi mampu menekan Emisi Gas Metan. Dengan pola
minapadi produksi gas metan yang dibuang dari sisa pemupukan berkurang. Gas
metan yang dihasilkan dari minapadi hanya 57,3 kg/ha/musim, sementara
monokultur padi menghasilkan gas metan 66,6 kg/ha/musim. Penurunan itu akan
semakin nyata jika minapadi ditambah 2 ton/ha azolla, dimana gas metan yang
dihasilkan hanya 45,0 kg/ha/musim.
III.TEKNIS BUDIDAYA MINAPADI
A. Pembuatan Parit/Caren
Parit dibuat sebelum pengolahan
tanah terakhir (perataan tanah) lebar 40 - 45 cm dan kedalaman 25 - 30 cm. Pada
titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1x1 m dengan kedalaman 30 cm.
Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang
saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu. Parit
berfungsi sebagai tempat penampungan air pada saat berlangsung pemeliharaan
ikan, melindungi ikan dari kekeringan pada saat terjadi kebocoran, memudahkan
panen ikan, sebagai tempat memberi makan ikan, memudahkan ikan bergerak
keseluruh petakan. Lahan diolah dengan cara diluku/dibajak
kemudian digaru. Setelah selesai, biarkan selama beberapa hari supaya mengendap
terlebih dahulu
B.Perbaikan Konstruksi Kolam
Pematang merupakan alat pengaman budidaya ikan yang akan dilakukan,untuk itu harus dibuat sebelum minapadi dilaksanakan, an pematang harus cukup kuat, tidak mudah bocor, tidak mudah ambrol dengan ketunggian tertentu. Tinggi pematang dibuat miring setinggi 40-60 cm, lebar bagian bawah 60 cm dan lebar di bagian atas 40 cm. Setelah pematang dibuat, jangan lupa buat juga pintu air masuk dan pintu air keluar, serta bat kubangan atau carennya.
C. Penanaman Padi
Sistim
tanam yang ideal diterpkan dalam Minapadi adalah sistim tanam jajar legowo baik
itu legowo 2:1 atau 4:1. Pada jajar legowo 2:1, setiap dua barisan tanam
terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam
barisan lebih rapat yaitu 10 cm. Pada jajar legowo 4:1. setiap empat barisan
tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, jarak dalam
barisan tengah 20 cm, tetapi jarak dalam barisan pinggir lebih rapat yaitu 10
cm. Untuk mengatur jarak tanam digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar
legowo 2:1 dicaplak satu arah saja, sedangkan pada jajar legowo 4:1 dicaplak
kearah memanjang dan memotong
D. Penebaran Ikan
Pemilihan
Benih Ikan, Kondisi perairan pada lahan sawah mengandung resiko ekologis yang
tinggi bagi usaha budidaya ikan yaitu fluktuasi pasok dan mutu air. Sehingga
pada kegiatan ini perlu dilakukan pemilihan benih yang unggul yaitu tahan
terhadap goncangan lingkungan dan penyakit.
Penebaran
benih ikan dilakukan 30 hari setelah penanaman padi dengan tujuan untuk
menghindari obat-obatan atau pupuk. Jenis ikan yang dianjurkan adalah ikan yang
berwarna gelap. Penebaran benih ikan dilakukan pada sore hari secara
perlahan-lahan agar ikan tidak mengalami stress akibat perubahan lingkungan.
Ukuran benih yang dianjurkan 5-8 cm dengan kepadatan 5.000 ekor/ha.
E. Pemeliharaan
Lama pemeliharaan ikan pada sistem
minapadi tergantung pada ukuran benih dan besarnya ikan yang akan dipanen.
Selama masa pemeliharaan ikan, ketersediaan pakan alami diupayakan selalu
tersedia, oleh karena itu upaya penyuburan sawah dengan pupuk organik dapat
dilakukan. Selain mengandalkan pakan alami pada masa pemeliharaan ikan ini juga
dilakukan pemberian pakan tambahan berupa dedak halus 250 kg/ha diberikan
secara disebar pada parit, pagi/sore hari. Lama pemeliharaan ikan 70-75 hari.
b). Melakukan pemeliharaan ikan yang meliputi
pemberian pakan, pengelolaan air dan pengawasan
c). Pemberian pakan pelet ikan dilakukan 2
kali sehari pagi dan sore. Pakan diberikan 2% dari total biomasa. Pakan
sebaiknya dicampur dengan probiotik
d). Ketnggian air rata-rata 75 cm pada
saluran dan kolam, sedangkan ketinggian air pada tanaman padi sekitar 30 cm.
f). Pintu masuk air dan pintu keluar air
dipasang saringan. Periksa saringan sesering mungkin dan segera bersihkan jika
kotor supaya air tidak meluap
g). Jangan melakukan penyemprotan tanaman padi menggunakan pestisida
kimia karena bisa meracuni ikan-ikan yang ada
Pemeliharaan padi dilakukan dengan
beberapa kegiatan, diantaranya penyiangan, penyulaman tanaman padi yang mati
dengan cara menyulam dari bibit yang telah disediakan dicadangkan, serta
pemupukan.
F. Panen
Panen ikan dilakukan setelah
mencapai umur pemeliharaan ikan untuk memudahkan panen, keluarkan air dari
pelataran sawah secara berangsur-angsur hingga air tersisa pada parit. Setelah
ikan berkumpul di saluran keliling/caren, selanjutnya ikan ditangkap dan
dimasukkan kedalam tampungan.
Sedangkan pemanenan padi pada sistem mina padi sama
seperti pemanenan pada penanaman monokultur. Permanenan padi dilakukan setelah
gabah masak merataSumber :
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41481560
https://mitalom.com/tips-cara-budidaya-padi-dan-ikan-minapadi-serta-kelebihan-dan-keuntungannya/
Langganan:
Postingan (Atom)







