Rabu, 26 Juni 2019

PEMBENIHAN IKAN GURAMI

I. PENDAHULUAN
Gurame adalah jenis ikan konsumsi bergizi tinggi yang termasuk jenis ikan air tawar dengan daya tahan tubuh yang tinggi. Gurame ( Osphronemus gouramy ), memiliki bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuningkuningan/ keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Guramme dapat tumbuh baik dengan ketinggian 20-400 m dpl. Gurame mudah dibudidayakan tetapi did dataran tinggi sekitar 800 m dpl ikan gurame cenderung lambat pertumbuhannya.

Usaha budidaya ikan gurami bisa di jalankan menyesuaikan modal. Dari modal kecil hingga yang modal besarpun dapat untuk meningkatkan usaha budidaya ikan gurame ini. Oleh oleh karena itu usaha budidaya ikan gurame ini terbuka untuk siapapun, sehingga ikan ini memiliki prospek yang bagus, selain harga jual yang relatif tinggi, dagung rasanya enak, banyak digemari/disukai konsumen, serta mudah cara pemeliharaannya.

II. KLASIFIKASI, MORFOLOGI, DAN HABITAtT
A. Klasifikasi
Di berbagai Daerah, gurame dikenal dengan berbagai sebutan, di antaranya, gurameh (Jawa), gurame (Sunda, Betawi), kalau, kala, alui (Sumatera). Dalam bahasa Inggris, gurami disebut giant gouramy. Menurut Bleeker yang kemudian disempurnakan oleh Sunier, Weber, dan De Beaufort, klasifikasi gurami sebagai berikut.
Fillum
:
Cordata
Subfillum
:
Vertebrata
Kelas
:
Pisces
Ordo
:
Labirinthici
Sub ordo
:
Anabantidae
Genus
:
Osphronemus
Spesies
:
Osphronemus gouramy Lac
B. Morfologi
ü Bentuk badan oval agak panjang, pipih, dan punggung tinggi
ü Mulut kecil, dengan rahang atas dan bawah tidak rata. Di bagian rahang terdapat gigi-gigi kecil berbentuk kerucut. Deretan gigi sebelah luar lebih besar dibandingkan dengan gigi sebelah dalam. Ikan yang sudah tua memiliki dagu menonjol.
ü Badan berwarna kecoklatan dengan bintik hitam pada sirip dada. Ukuran sisik besar.
ü Pada jari pertama sirip perut terdapat alat peraba berupa benang panjang.
ü Memiliki alat pernapasan tambahan (labirin) yang berfungsi menghirup oksigen langsung dari udara. Alat berupa selaput yang berkelok-kelok dan menonjol ini terdapat di tepi atas insang pertama. Pada labirin terdapat pembuluh kapiler yang memungkinkan gurami untuk mengambil oksigen langsung dari udaha dan menyimpannya.
ü Pada gurame muda, di depan sirip duburnya terdapat bintik hitam yang menandakan bahwa gurami itu masih berusia muda.
ü Pada ikan yang sudah tua, terdapat duri di sirip punggung dan sirip dubur yang ukurannya akan semakin besar
C. Habitat Dan Kebiasan Makan
Gurame dapat tumbuh dan berkembang pada perairan tropis maupun subtropis. Secara geografis, habitat ikan gurame tersebar di berbagai negara. Di alam bebas gurame hidup dan tumbuh di sungai-sungai atau rawa-rawa air tawar yang berada pada ketinggian antara 50-600 di atas permukaan laut. Tidak menutup kemungkinan bahwa gurame dapat hidup di air yang sedikit asin. Namun meskipun memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan, gurame lenih cocok hidup di perairan air tawar.Habitat dan sifat ikan gurame
Gurame termasuk golongan ikan Labyrinthici, sebangsa ikan yang memiliki alat pernapasan insang dan insang tambahan ( Labirin ). Labirin adalah alat pernapasan berupa selaput tambahan yang berbentuk tonjolan pada tepi atas lapisan insang pertama. Pada selaput ini terdapat pembuluh darah kapiler sehingga kemungkinan gurame untuk mengambil oksigen langsung dari udara.
Bentuk tubuh yang pipih dan tinggi (compres)  serta bentuk sirip ekor setengah lingkaran merupakan ciri bahwa gurame ikan penghuni air tenang, dengan dasar perrairan yang tidak terlalu keras dan berlumpur.  Dasar kolam yang keras dapat merusak tubuh gurame ketika menggosok-gosokan tubuhnya, terutama kalau sedang mengalami sedikit stress. Sementara dasar kolam yang berlumpur mudah di aduk-aduk gurame. terutama pada waktu mencari makan yang menyebabkan pernapasan dan pengilahatan nya gurame terganggu. Suhu optimal habitat gurame berkisar 24-38c. Kandungan oksigen berlarut di perairan 3-5 ppm. Sementara derajat ke asaman (pH) berkisar 7-8.
Habitat dan sifat ikan gurame memiliki tingkat kepekaaan yang rendah terhadap senyawa-senyawa beracun di dalam air sangat menguntungkan. Kebanyakan ikan air tawar akan mati pada kadar karbondioksida (CO2) terlarut sebesar 15 ppm. Namun gurame masih mampu bertahan hidup meskipun karbondioksidanya mencapai 100 ppm. Kehidupan gurame juga tidak terganggu dengan adanya bahan beracun di dalam air seperti nitrogen dalam bentuk amoniak (NH3) atau amonium (NH4) maupun sulfida dalam bentuk asam sulfida (H2S).
Gurame juga termasuk ikan pemakan segala (omnivora). Larva gurame yang masih kecil memakan binatang retnik (retifera, infusoria, moina, daphnia) yang hidup sebagai perifiton (melayang dalam kolam air). Benih gurame lebih menyenangi larva serangga crustaceae, zooplankton, dan cacing sutra.
Setelah besar gurame lebih berkecenderungan memakan de daunan dari tumbuhan air. Pakan dan kebiasaan ikan gurame bisa berubah sesuai dengan keadaan lingkungan hidupnya. Dalam lingkungan yang berbeda, ikan lebih bergantung atau berkolerasi dengan ketersediaan makanan. Pada habitatnya panjang tubuh gurame yang berumur satu tahun mencapai panjang sekitar 15 cm, dua tahun mencapai 25 cm dan pada umur 3 tahun mencapai 30-33 cm. Pertumbuhan gurame akan berlangsung dengan cepat pada umur 3-5tahun.
Pertumbuhan wal gurame jantang lebih lambat di banding dengan pertumbuhan gurame betina,namun pada pertumbuhan selanjutnya, gurame jantan akan lebih panjang dan melebar sehingga bentuk tubuhnya terlihat pipih. Sementara gurame betina akan tumbuh tebal sehingga terlihat gemuk.
Pertumbuhan gurame di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor dalam dan faktor luar. faktor dalam di antaranya keturunan (genetik), seks, umur, serta parasit dan penyakit. Dalam budidaya faktor keturunan bisa di kontro. Pengontrolan keturunan dapat di lakukan dengan mengadakan seleksi untuk mencari bibit ikan yang baik. Sementara faktor luar yang berpengaruh secara dominan adalah pakan dan suhu perairan. Namun dalam keadaan extrem faktor kimia perairan juga bisa menjadi penentu keberhasilan budidaya gurame dan tentu berlaku untuk semua jenis ikan, hindari bahan kimia secara langsung.
D. Syarat Tumbuh
  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 50-400 m dpl.
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
  5. Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik. 
  6. Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
  7. Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.
III. JENIS JENIS IKAN GURAMI
a. Gurame Soang
Gurame soang ini juga dikenal sebagai gurami jawa barat karena pada awalnya banyak terdapat di Jawa Barat, terutama di Ciamis dan sekitarnya. Gurame jantan memiliki dahi yang lebih menonjol dibandingkan gurami betina. Semakin dewasa, bentuk dahi semakin menonjol ke atas seperti kepala angsa (soang — Sunda). Karena itulah, gurame jenis ini disebut gurame soang.
b. Gurame Jepun
Gurame Jepun dikenal dengan nama gurame jawa tengah atau gurami purwokerto. Ukuran tubuhnya lebih kecil, panjangnya maksimal 45 cm dengan bobot 3,5 – 4 kg. Tubuhnya berwarna hitam dengan sisik kecil-kecil. Produksi telurnya 2.000 – 3.000 butir telur per periode bertelur.
c. Gurame Bastar
Gurame lain yang banyak dikenal oleh petani di Jawa Barat ialah gurame bastar. Gurami bersisik besar ini berwarna agak kehitaman dengan kepala putih. Sosoknya bongsor seperti gurami soang, tetapi kepalanya tidak terlalu nongnong. Laju pertumbuhannya pun cepat. Sayangnya, produksi telurnya hanya 2.000 – 3.000 butir setiap kali memijah.
d. Gurame Bluesafir
Gurame bluesafir ini tubuhnya berwarna merah mudah cerah. Berat maksimum hanya 2 kg/ekor. Sekali memijah, induk betina menghasilkan sekitar 6.000 butir terlur. Gurami ini biasa dijadikan hiasan akuarium.
e. Gurami Paris
Tubuh gurami jenis ini berwarna dasar merah muda cerah mirip gurami bluesafir. Kepalanya berwarna putih dan terdapat bintik atau totol hitam di sekujur tubuhnya. Bobot maksimum hanya 1,5 kg/ekor. Gurame paris mampu menghasilkan sekitar 5.000 butir telur sekali memijah. Jenis ini tergolong tidak produktif untuk dijadikan gurami konsumsi.
f. Gurame Porselen
Tubuhnya berwarna merah muda cerah dengan bagian bawah tubuh putih. Ukuran kepala relatif kecil. Gurame porselen mampu menghasilkan telur sampai 10.000 butir sekali memijah. Gurami ini dicari sebagai benih unggul.
g. Gurame Kapas
Warnanya putih keperakan seperti kapas. Sisiknya kasar dan besar. Bobotnya hanya mencapai 1,5 kg/ekor. Sementara itu, produksi telurnya hanya 3.000 butir sekali memijah.
h. Gurame Batu
Warnanya hitam merata dan sisiknya kasar. Pertumbuhannya termasuk lamban. Pada umur 13 bulan bobot hanya mencapai 0,5 kilogram. Karena itu, gurami ini sangat tidak produktif untuk dibudidayakan sebagai gurame konsumsi.
IV. TEKNIS PEMBENIHAN IKAN GURAMI
A. Persiapan Induk
Induk mencapai umur > 3 - 7 tahun. Berbeda dengan induk ikan tambakan, Jumlah telur induk ikan gurame tergantung dari berat indukan betina semakin besar indukan betina semakin banyak jumlah telur yang tersimpan, perut akan membulat dan relatif penjang dengan warna badan terang. Sisik-sisiknya usahakan tidak cacat/hilang dan masih dalam keadaan tersusun rapi.

Induk betina yang cukup umur dan matang kelamin ditandai dengan perutnya akan membesar ke belakang atau di dekat lubang dubur. Pada lubang anus akan nampak putih kemerah-merahan. Dan apabila kita coba untuk meraba perutnya akan teras lembek.
Ciri-Ciri indukan Gurame
1) Induk betina
Ikan betina mempunyai dasar sirip dada yang gelap atau berwarna kehitaman, warna dagu ikan betina keputih-putihan atau sedikit coklat, jika diletakkan di lantai maka ikan betina tidak menunjukan reaksi apa-apa.

2) Induk jantan
Ikan jantan mempunyai dasar sirip berwarna terang atau keputih-putihan, mempunyai dagu yang berwarna kuning, lebih tebal daripada betina dan menjulur. Induk jantan apabila diletakkan pada lantai atau tanah akan menunjukan reaksinya dengan cara mengangkat pangkal sirip ekornya ke atas.
B. Persiapan Substract
-Siapkan bahan-bahan seperti ijuk, rumput kering, sabut kelapa, 
-siapkan sosok
-buat anjang-anjang dari bambu dan letakkan pada tepaian kolam pemijahan ikan 
-cuci bersih bahan sarang jika perlu di treatmen dan keringkan
-taruh bahan-bahan sarang diatas anjang-anjang
C. Persiapan Kolam 
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara lain:
a) Kolam penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
b) Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi (tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk atau ranting-ranting.
c) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
D. Pelaksanaan Pemijahan Ikan
§  Induk yang sudah matang gonad siap untuk ditebarkan di kolam pemijahan. 
§  Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukurannya tergantung jumlah induk yang dimiliki, ukuran minimumya 20 m2 dan maksimum dapat mencapai 1000 m2 dengan kedalaman ideal 0,8 m - 1,5 m. 
§  Kolam induk sebaiknya dekat dengan kolam pemijahan sehingga memudahkan proses pemindahan induk ikan. 
§  Padat tebar induk ikan gurami diusahakan 1 ekor induk ikan yang bobotnya 3-5 kg per ekor sebaiknya memiliki areal untuk bergerak bebas seluas 5 m2. 
§  Penebaran induk dilakukan dengan perbandingan 1 ekor jantan yang bobotnya mencapai 3-5 kg dan 3 ekor betina yang bobotnya minimal 3 kg.
§  Proses pemijahan biasanya akan berlangsung yang diawali 1 minggu pertama induk jantan telah memulai membuat sarang, lamanya membuat sarang lebih kurang 6 hari kemudian induk betina yang sudah siap pijah memiliki naluri akan segera berpijah setelah sarangya siap, terjadinya proses pemijahan selama 2-3 hari, induk betina segera mengeluarkan telur-telurnya dan secara bersamaan pula induk jantan menyemprotkan sperma dan terjadi proses pembuahan telur oleh sperma jantan. 
§  Proses perkawinan akan diakhiri apabila jantan telah menutup sarang, dengan ijuk atau sejenisnya. Keberhasilan proses pemijahan dapat diamati pula dengan melihat pemukaan kolam yang ada sarang guraminya terlihat keluar banyak minyak dipermukaan air dan tecium bau amis.
E. Penetasan telur
Penetasan Telur Ikan Gurame
§  Pengambilan sarang yang berisi telur dilakukan secara berhati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang dan sebaiknya sarang tidak diangkat begitu saja, tetapi menggunakan wadah berupa ember atau baskom yang berisi air dan diberi Metheline Blue dengan perbandingan 5 cc obat untuk 5 liter air.
§  Penetasan dapat dilakukan di dalam paso atau baskom maupun di dalam akuarium. Air di dalam baskom atau akuarium diberi aerasi atau supplay oksigen dan setiap hari dilakukan pengambilan telur-telur yang tidak menetas atau berjamur supaya tidak menular ke telur yang sehat. Biasanya telur gurami akan menetas setelah 36-41 jam.
F. Perawatan Larva
§  Setelah telur menetas, larva dapat dipelihara dalam paso atau baskom selama 8-10 hari sampai kuning telur habis. 
§  Bila penetasan dilakukan di dalam akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan di akuarium, penggantian air perlu dilakukan untuk membersihkan air dari minyak yang dihasilkan saat penetasan. Suhu dipertahankan pada kisaran 29-30 derajat celcius.
§  Pemindahan larva dari lokasi penetasan ke lokasi pembesaran / pendederan dapat dilakukan dengan menggunakan baskom atau ember. 
§  Larva dimasukkan ke dalam ember bersama air dari tempat penetasan sehingga larva tidak stres. Sebaiknya pemindahan ke kolam atau tempat pendederan dilakukan pada pagi atau sore hari dimana pebedaan suhu antara air media penetasan dan air media pendederan atau kolam tidak begitu mencolok.
Pemberian Pakan Ikan Gurame
§  Pakan mulai diberikan setelah larva berumur 8-10 hari atau setelah kuning telur habis. Pakan yang diberikan adalah pakan alami yang bisa berupa artemia, kutu air berupa daphina atau moina, cacing sutera. 
§  Jenis pakan yang diberikan ini disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Frekuensi pemberian sebanyak 4-5 kali sehari.
§  Untuk larva yang dipelihara di akuarium, pemberian pakan dapat diberikan sebanyak 2 sendok makan untuk 1000 ekor larva setiap pemberian. Ketika sudah semakin besar, kepadatan larva dalam satu akuarium dapat dikurangi.
§   Larva yang dipelihara dalam akuarium selanjutnya dipelihara hingga menjadi benih yang siap ditebarkan ke kolam pemeliharaan benih.
DAFTAR PUSTAKA

Rabu, 29 Mei 2019

Patin, Prospek Dan Cara Budidayanya

I. PENDAHULUAN
kan patin juga digolongkan sebagai catfish karena perilaku yang dimilikinya. Ikan lain yang memiliki golongan yang sama (catfish) adalah ikan lele yang sering kita jumpai di pasaran. Kedua ikan tersebut merupakan ikan yang nocturnal atau aktif di malam hari.
II.KLASIFIKASI, BOLOGI, MORFILOGI DAN HABITAT
A. Ciri Morfologi
Ikan patin merupakan salah satu jenis ikan yang sudah didomestikasikan sejak lama, ikan patin ini sangat banyak yang menyukainya dan juga sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Ikan patin ini sangat banyak di budidayakan dan di ternakan para petani. Selain itu, ikan patin ini juga memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi sehingga pengembangan semakin luas diberbagai daerah dan juga wilayah

Ikan patin ini memiliki bentuk memanjang, berwarna putih perak dengan punggung bewarna kebiruan, ikan patin ini tidak memiliki sisik, dan memiliki kepala relatif jauh lebih kecil dibanding dengan bentuk tubuhnya. Selain itu, ikan patin ini juga dimanfaatkan dan digunakan untuk menambah asupan nutrisi tubuh dengan mak
·         Memiliki kepala kecil dibandingkan dengan bentuk badannya
·         Bagian mulut kerucut melebar dan juga memiliki kumis halus.
·         Memiliki mata bulat berwarna kehitaman dan juga sirip dada dibagian samping.
·         Insang terletak pada bagian samping dekat dengan sirip dada.
·         Sirip punggung memanjang kebelakang dan memiliki penjang 1-2 cm
·         Sirip anak ini berbentuk sisir dibagian pangkal ujung runcing berwarna kekuningan dan perak
·         Sirip ekor berbentuk segitiga dibagian ujung pangkal bawah dan atas runcing

B. Klasifikasi
Kingdom : Animalia ( hewan )
Filum : Chordata ( bertulang belakang )
Kelas : Pisces
Famili : Pangisidae
Genus : pangisius
Spesies : Pangisius Hypopthalamus, Pangisius jambal, Pangisius humeralis Pangisius lithostoma, Pangisius nasutus, Pangisius polyuranodon dan Pangisius niewenhuisii.
III. PROSPEK PENGEMBANGAN PATIN
Berdasarkan penelitian, ikan patin memiliki kandungan gizi yang tinggi. Manfaat ikan patin karenanya sangat banyak. Ikan yang dagingnya sangat lembut ini kaya akan dua asam lemak esensial DHA dan EPA.
Asam lemak esensial ini dikenal dengan Omega-3, yang sangat baik untuk kesehatan tubuh dan otak. Omega-3 dipercaya mendukung kecerdasan anak dan memperkuat system kekebalan tubuh. Kadar DHa di dalam ikan patin mencapai 5,45 % sedang kadar EPA mencapai 0,78 %.
Sementara itu, ikan patin kaya akan lemak tak jenuh yang berada diatas 50 %. Dari jumlah tersebut, asam oleat banyak terdapat di dalam daging patin mencapai 7,43 %. Lemak tak jenuh ini sangat baik sebagai cara pencegahan penyakit kardiovaskular.
Tidak hanya itu, asam lemak sangat bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah sehingga bisa mencegah resiko penyakit jantung koroner. Disisi lain, manfaat ikan patin juga bisa dilihat dari kadar kolesterol pada ikan ini yang sangat rendah.
Kandungan protein pada ikan patin juga cukup besar, yaitu sekitar 159 gr. Protein sangat penting bagi pertumbuhan sel-sel dalam tubuh dan menjaga tubuh tetap sehat.
Jika anda mengkonsumsi ikan patin berikut dengan tulangnya, misalnya jika dimasak presto, anda juga akan mendapatkan kalsium dan fosfor yang baik untuk tulang. Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan bisa menghambat pertumbuhan tulang dan gigi.
Dengan kebaikan dan kandungan gizi tinggi yang terdapat pada ikan patin, maka ikan patin menjadi pilihan sumber protein dan gizi yang sangat bermanfaat untuk anak-anak, ibu hamil, dan siapa saja termasuk anda.

Mengkonsumsi ikan patin tidak hanya memberikan pengalaman kuliner yang lezat dan mantap, juga akan memberikan anda dan keluarga anda kesehatan dan kebaikan. Manfaat ikan patin akan semakin sempurna dengan cara pengolahan yang tepat dan sehat.
Keuntungan ikan patin
·         Memiliki nilai ekonomis relatif tinggi
·         Mudah dibudidaya dan diternakan
·         Manajemen pemeliharan tergolong mudah
·         Mudah beradaptasi dengan lingkungan
·         Memiliki nilai nutrisi dan kandungan vitamin tinggi
IV. CARA BUDIDAYA 
A. Kolam Terpal
Budidaya ikan menggunakan kolam terpal sudah popular diterapkan terutama pada jenis ikan lele. Lele kolam terpal bahkan menjadi andalan program di beberapa wilayah.
Namun, tahukah anda jika kolam terpal juga bisa diterapkan untuk budidaya ikan patin? Secara prinsip, penggunaan kolam terpal untuk patin maupun ikan lele sama saja. Artinya, anda pun kini bisa mencoba budidaya kolam terpal yang mudah, hemat biaya dan sederhana tersebut.
Cara budidaya ikan patin menggunakan kolam terpal memiliki beberapa keunggulan, yaitu;
1.    Hemat Biaya
Biaya yang dibutuhkan untuk membangun kolam, baik kolam tanah, kolam semi permanen maupun permanen tidak sedikit.
Jika anda menggunakan terpal, maka tentu biayanya bisa ditekan lebih banyak. Anda cukup membeli terpal secukupnya sesuai ukuran kolam yang akan anda buat, beberapa batang bamboo untuk pagar, tali dan selang air.
2.    Mudah Pembuatannya
Kolam terpal lebih mudah pembuatannya. Anda bisa menyesuaikan dengan pekarangan yang anda miliki.
Cukup menyiapkan bambu sebagai pagar keliling kolam, lalu letakkan terpal hingga membentuk kolam. Ikat keempat sisinya agar kolam tidak tumpah atau terlipat saat diisi air. Terpal yang digunakan pilih dari terpal yang cukup kuat dan tebal.
3.    Praktis
Kolam terpal memang tidak tahan lama, namun cukup tahan untuk beberapa kali musim panen. Asalkan perawatannya baik dan menghindari resiko kebocoran dengan tidak menggunakan peralatan yang tajam disekitar kolam.
Kolam terpal mudah diganti, mudah dibersihkan dan gampang perawatannya. Selain itu juga fleksibel. Anda bisa menambah kolam kapan pun anda mau sejauh masih terdapat ruang.
Nah, keunggulan diatas menarik bukan? Kini anda bisa mewujudkan hobi dan bisnis anda dalam budidaya ikan patin rumahan yang murah dan gampang. Anda tidak perlu lagi membeli ikan kegemaran anda di pasar, cukup memelihara di rumah dalam kolam terpal yang sederhana.
Tetapi, ketika anda menggunakan kolam terpal, ada beberapa hal yang harus anda perhatikan agar ikan tetap sehat dan kolam anda awet tak gampang rusak, yaitu;
1.    Setelah kolam terpal jadi dan diisi dengan air jangan buru-buru memasukan ikan patin anda ke dalamnya. Tunggulah setidaknya selama 1-2 minggu sampai PH airnya tidak asam. Air sumur atau air PAM mungkin mengandung keasaman yang kurang baik untuk ikan. Hal ini juga untuk menghindari racun yang mungkin masih menempel pada terpal.
2.    Selain itu, isilah air secara bertahap, jangan langsung penuh. Anda bisa memulainya dari setinggi 20 cm sampai kira-kira setengah terpal. Hal ini juga penting untuk mengecek apabila anda kebocoran atau desain yang kurang pas posisinya.
3.    Setelah diisi dengan benih ikan, pastikan untuk menjaga kolam tetap bersih tidak berlumpur. Patin tidak seperti lele yang menyukai kolam berlumpur atau keruh. Jadi sebaiknya anda rutin mengganti air agar ikan patin anda sehat.
4.    Berikan pakan secukupnya sesuai kebutuhannya dan dengan cara yang tepat. Pemberian pakan yang berlebihan akan membuat kolam cepat kotor. Kadar protein dari pellet yang tidak termakan habis juga mengurangi kualitas air.
5.    Sering-seringlah mengecek kondisi terpal apabila air membludak saat hujan, atau kemungkinan bocor dan rusak. Jika anda tidak rutin mengawasi kolam terpal anda, hal-hal yang buruk seperti kolam rusak dan sebagainya akan sulit dihindari.
6.    Pastikan saluran pengairan yang mudah dan baik. Terutama jika anda membuat kolam di lingkungan perkampungan. Anda harus membuat system pembuangan air yang memadai agar tidak mengganggu tetangga.
Anda bisa membuat beberapa kolam untuk pembibitan, pembesaran, pemijahan dan sebagainya dengan kolam terpal. Bedanya hanya ukuran sesuai tingkat kebutuhan anda.

Namun jika anda baru pemula, ada baiknya anda mencoba dulu budidaya ikan patin dengan system pembesaran. Anda bisa membeli bibit patin untuk dibesarkan. Sambil melihat peluang dan kondisi lingkungan sekitar apakah cocok atau sesuai untuk budidaya patin.
B. Kolam Tembok

Budidaya ikan dengan menggunakan kolam tembok beton yang permanen dan tahan lama. Biaya investasi kolam dengan cara ini tergolong cukup tinggi. Karena itu, sebaiknya dilakukan untuk anda yang telah mencoba kolam terpal dan berhasil. Meskipun memiliki biaya yang lebih besar di awal, namun kolam tembok akan lebih tahan lama hingga bisa dikatakan cukup baik untuk investasi bisnis jangka panjang.
Ada dua tipe kolam tembok beton yang dapat anda gunakan sebagai referensi membuat kolam. 
1) Tipe yang pertama adalah tipe kolam gali seperti kolam ikan pada umumnya.
Kolam tipe tanam atau gali biasanya dibangun menyesuaikan sumber air yang digunakan. Tipe ini dibangun apabila menggunakan sumber air dari sungai yang letaknya lebih rendah dari permukaan lahan.
Karena itu, penggalian diusahakan pada musim kemarau saat air sungai surut. Hal ini dilakukan agar batas air minimal untuk budidaya dapat terpenuhi. Selain itu, saat musim kemarau anda tidak perlu menyedot air dengan menggunakan pompa air mekanik.
2) Tipe yang kedua adalah tipe kolam permukaan yang dibuat diatas tanah tanpa melakukan penggalian kolam. Kedua tipe ini memiliki keunggulan masing-masing sesuai dengan lokasi dibangunnya kolam.
2.    Kolam Tembok Beton Tipe Permukaan
Tipe ini biasanya dibangun pada areal lahan cadas berbatu atau lahan pekarangan yang telah dikeraskan. Hal itu terjadi karena akan lebih memakan biaya tinggi bila harus menggali lahan. Sumber air yang dapat digunakan adalah air sumur baik sumur bor maupun sumur gali.
Tidak disarankan menggunakan air PAM, terutama didaerah perkotaan karena kandungan bahan kimia yang tinggi. Namun bila terpaksa digunakan anda bisa menetralisir air agar terbebas dari bahan kimia pembersih air.
Keuntungan menggunakan kolam tembok beton adalah system pengairan yang mudah diatur antara air masuk dan air keluar. Hal tersebut akan memudahkan anda menguras air dan membuang air kolam pada saat panen.
Endapan lumpur yang tidak disukai oleh ikan patin pun dapat anda deteksi dan buang dengan mudah. Dan karena konstruksi yang kuat, maka kemungkinan gagal panen karena kolam jebol dapat dinetralisir dengan maksimal.
Karena sifatnya yang permanen, kolam tembok beton harus menggunakan desain dan perhitungan yang mantap dan sesuai kebutuhan. Hal itu dilakukan agar terdapat kesesuaian antara investasi dan hasil yang akan diperoleh. Untuk membangun konstruksi kolam tembok beton, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Berikut ini beberapa ulasan mengenai konstruksi ideal yang bisa anda jadikan acuan membangun kolam ikan patin.
1.    C. Kedalaman Kolam
Ke dalam ideal untuk kolam ikan patin dengan masa panen 5 bulan adalah 1 hingga 1,5m. Karena itu usahakan membangun dengan kedalaman lebih dari 1m.
Kolam yang kurang dalam akan cenderung membuat ikan cepat stres sehingga mengganggu pertumbuhan ikan patin. Terutama untuk kolam yang dibangun dengan tipe permukaan. Untuk menghindari ikan melompat dan air kotor karena dahan masuk ke kolam, anda bisa menggunakan jaring atau paranet.
2.    D. Luas Kolam
Salah satu cara agar ikan patin dapat berkembang dengan baik adalah populasi yang ideal. Populasi yang pas untuk ikan patin agar bisa tumbuh dengan baik adalah 25 ekor per 1 meter kubik.
Apabila anda memiliki kolam dengan ukuran 10 x 10x1 atau 100 m3,maka anda dapat memelihara ikan patin sebanyak 25x100 atau 2.500 ekor bibit ikan. Menambah bibit dengan kapasitas berlebih tidak akan meningkatkan hasil panen ikan yang anda lakukan.
3.    E. Saluran Air
Sirkulasi air salam budidaya ikan patin sangat penting karena ikan patin cocok hidup di air yang cukup jernih dan tanpa endapan. Karena itu, pembuatan saluran buangan harus dilakukan dengan baik.
Anda bisa membuat dua saluran pembuangan air dalam satu kolam tembok beton. Yang pertama digunakan untuk menguras air dan membuang endapan. Yang kedua digunakan untuk membuang kelebihan air apabila terjadi hujan lebat.
Untuk pengairan pada kolam tembok beton sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan ikan patin. Pada awal memasukan bibit ikan yang masih kecil, kolam cukup digenangi setinggi 30-40 cm.

Kemudian anda bisa menaikkan level air 10 cm per dua minggu hingga mencapai batas optimal antara 100 cm hingga 150 cm. Hal ini dilakukan agar ikan tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk mengambil oksigen di permukaan air.
F. Pembveria Pakan
Makanan ikan patin adalah salah satu hal yang harus anda perhatikan pada budidaya ikan patin. Pemberian pakan yang tepat dan benar berpengaruh terhadap pertumbuhan berat, kualitas dan kesehatan ikan patin.
Pemberian pakan juga berpengaruh terhadap biaya operasional yang akan anda keluarkan dalam budidaya ikan patin. Karena itu, manajemen pakan ikan patin harus direncanakan secara seksama.
Untuk meningkatkan berat dan mempercepat pertumbuhan pada budidaya ikan patin, pemberian pellet setidaknya harus diberikan sekitar 4 kali dalam sehari. Pemberian pellet ini, sesuai dengan ukurannya, diberikan mulai benih ditebar hingga patin telah siap dipanen. Dosis pakan per 12500 ekor tebaran adalah 50 kg/bulan.
Pada bulan kedua pakan yang disediakan adalah 150 kg, sementara pada bulan ketiga 300 kg. Setelah itu anda bisa mengurangi pellet dan menambahkan pakan alternative untuk menekan biaya.
Makanan ikan patin sebagai alternative pellet pabrikan ada dua jenis. Pertama adalah pakan yang bisa dikonsumsi langsung seperti sisa makanan, limbah roti atau biscuit, ikan rucah dan sebagainya. Pemberian pakan jenis ini diberikan pada bulan keempat.
Namun walaupun bisa diberikan secara langsung, ada hal syarat yang harus anda perhatikan yaitu pada ikan rucah singkirkan duri atau tulangnya terlebih dahulu. Pada makanan sisa, pastikan tidak pedas atau asam.
Jenis pakan yang kedua adalah pakan yang anda buat sendiri, menjadi seperti pellet pabrikan. Bahan-bahan untuk pellet homemade ini mudah dan murah. Misalnya, ikan asin, bekatul, dedak halus, ampas singkong, ampas tahu dan daun papaya.
Anda bisa menggunakan mesin pencacah atau menumbuk secara manual. Anda juga bisa memanfaatkan gilingan daging jika punya. Sebelum diberikan pada patin, adonan dari bahan diatas harus dijemur terlebih dahulu untuk menghilangkan kadar air.
Makanan ikan patin diatas bisa anda buat sekaligus dalam jumlah banyak sebagai cadangan makanan selama beberapa bulan. Asalkan tingkat kekeringannya sempurna dan penyimpanannya baik pellet tidak akan cepat rusak.
Jangan ragu tentang kandungan gizinya, karena bahan-bahan seperti ampas tahu, ampas singkong, bekatul maupun ikan asin sangat baik dan kaya akan gizi. Pelet bikinan sendiri juga tentunya akan disukai oleh ikan patin yang anda budidayakan.
Jenis pakan tambahan alternative mana yang akan anda pilih tentu disesuaikan dengan kemampuan dan lokasi anda. Apabila anda tinggal di wilayah yang mudah untuk mendapatkan bahan-bahan makanan sisa tentu harus dimanfaatkan.
Demikian juga jika anda dekat dengan lokasi limbah ampas tahu dan sebagainya. Jika anda bisa membuat makanan ikan patin sendiri tentu akan sangat menghemat biaya budidaya ikan patin.
V. PENUTUP