Selasa, 21 Mei 2019

Teknis Budidaya Cacing Sutera

I. PENDAHULUAN
Kebutuhan cacing sutra semakin tinggi dengan jumlah produksi cacing dalam negeri masih sangat rendah. Para pebisnis ikan hias dan usaha pembenihan, mereka semua sangat tergantung pada ketersedian cacing sutra. Meskipun sudah ada pakan pengganti cacing sutra dan sudah tersedia di pasaran, namun sebagian besar para pebisnis ikan menganggap peran cacing sutra belum tergantikan sampai sekarang
II. KLASIFIKASI, MORFOLOGI DAN HABITAT
A. Klasifikasi
Kingdom : Animalia 
Filum : Annelida 
Kelas : Oligochaeta 
Ordo : Haplotaxida 
Famili : Tubificidae 
Genus : Tubifex 
Spesies : Tubifex



B.Morfologi cacing Sutera
Cacing sutra memiliki warna tubuh kemerahan dengan panjang 4 cm dan memiliki diameter rata-rata 0,5 mm. Warna merah pada tubuh cacing sutra dikarenakan adanya Erytrocruorin yang larut dalam darah (Pennak, 1978). 8 Cacing sutra disebut sebagai cacing sutra karena memiliki tubuh yang sangat lembut seperti benang sutra. Cacing sutra hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik. Kebiasaan cacing sutra yang berkoloni antara satu individu dan individu lain sehingga sulit untuk dipisahkan (Khairuman dan Sihombing, 2008). Famili Tubificid membuat tabung pada lumpur untuk memperoleh oksigen melalui permukaan tubuhnya. Oksigen tersebut diperoleh dengan cara tubuh bagian posterior menonjol keluar dari tabung dan bergerak secara aktif mengikuti aliran air. Gerakan aktif bagian posterior Tubificid dapat membantu fungsi pernafasan (Rogaar, 1980 dalam Febrianti, 2004)
C. Habitat
Cacing sutra dapat tumbuh dengan baik pada kondisi lingkungan yang mengandung bahan organik tinggi. Hidup di dasar perairan sungai atau parit selokan yang airnya selalu mengalir (Kotpal 1980 dalam Suharyadi 2012). Tubificid dapat hidup pada perairan tercemar, pada kondisi ini Tubificid mampu bertahan hidup karena kemampuannya untuk melakukan respirasi pada tekanan oksigen yang rendah (Palmer, 1968). Cacing sutra menempati daerah permukaan hingga kedalaman 4 cm. Cacing muda yang berbobot 0,1-5 mg dapat ditemui pada kedalaman 0-4 cm, sedangkan cacing dewasa yang berbobot > 5 mg dapat ditemui pada kedalaman 2-4 cm (Marian, 1984). Pada kedalamanan tersebut terdapat perbedaan ukuran partikel sumber 9 nutrisi cacing sutra, partikel-partikel yang dimakan cacing sutra berukuran < 63 µm (Rodriguez et al, 2001). Cacing sutra mampu bertahan hidup pada kisaran suhu 20-29 ºC (Putra, 2010) tetapi suhu optimal yang diperlukan bagi cacing sutra berkisar antara 20-30 ºC. Selain suhu, pH air juga berpengaruh terhadap pertumbuhan cacing sutra. Nilai pH yang rendah akan mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi. Kisaran pH optimal untuk Tubificid yaitu 6-8 (Whitley, 1968). Kebutuhan kadar oksigen bagi pertumbuhan embrio cacing sutra secara normal berkisar antara 2,5-7,0 ppm (Marian, 1984). Sistem flow through perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen bagi cacing sutra walaupun cacing sutra dapat bertahan hidup pada kondisi oksigen rendah. Namun pergantian air perlu dilakukan untuk membuang kandungan amoniak yang bersifat racun bagi cacing sutra. Nilai amoniak pada media harus berkisar antara 0,01-1,76 ppm dan jika kandungan amoniak > 3 ppm merupakan kondisi letal bagi cacing sutra (Suprapto 1986 dalam Suharyadi 2012). Fiastri (1987) menyatakan bahwa debit air optimal bagi pertumbuhan cacing sutra adalah 750 ml/menit atau sekitar 3 l/ menit untuk setiap m 2 wadah yang dipakai. Menurut Sulmartiwi (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan populasi cacing sutra tertinggi adalah dengan debit air 525 ml/menit. Sedangkan Shafrudin et al (2005) memberikan debit air 300 ml/menit atau 1,87 l/menit untuk setiap m2 wadah yang dipakai.
III. TEKNIS BUDIDAYA CACING SUTERA
A. Syarat Hidup
1.   Memiliki pH sekitar 5.5 – 8.0
2.   Pastikan suhu udaranya jangan terlalu tinggi, berkisar antara 25 – 280 C
3.   Kandungan oksigen pada air sekitar 2,5 – 7,0 ppm
4. Kebutuhan akan jumlah debit air tidak terlalu besar, mengingat ukaran cacing sutra sangat kecil
B. Persiapan Pembibitan
Anda bisa menemukan bibit cacing sutra di toko ikan hias, atau bisa juga langsung mendapatkannya di alam bebas dengan cacatan harus dikarantina terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari bakteri patogen. Langkah-langkah karantina yaitu cacing dialiri air bersih selama 2-3 hari dengan debit air yang kecil dengan kandungan oksigen cukup. Langkah ini dilakukan untuk menghindari resiko bakteri patogen dan menjaga kesehatan cacing sebelum siap untuk dibudidayakan.
C. Persiapan Media Tumbuh
Budidaya cacing sutra dengan media nampan sebetulnya sudah bukan hal baru,mengingat cara ini sudah dilakukan semenjak awal tahun 2013, namun baru populer di masa sekarang. Budidaya ini menggunakan sistem SCRS (Semi Closed Resirculating System). Sistem ini meruapakan metode pengolahan dan penggunaan kembali air yang dipakai pada proses budidaya cacing sutra. Pengisian air baru dilakukan ketika air dalam nampan mengalami penyusutan akibat penguapan atau evaporasi. Budidaya cacing sutra menggunakan nampan memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:
1. Lebih hemat dalam pemakaian air
Air yang telah melalui susunan media pada media nampan ditampung pada wadah yang ada di bagian bawah rak dan selanjutnya dialirkan kembali ke media nampan yang paling atas dengan memakai pompa air atau dab.
2. Menghemat dalam Pemakaian Probiotik dan jenis Obat-obatan yang lain.
Probiotik dan obat-obatan yang telah dicampurkan pada media tumbuh atau substrat budidaya cacing sutra yang ikut kebawa arus air tidak langsung terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung di suatu wadah bagian bawah wadah rak bersama air dapat dipakai kembali dengan cara mengalirkan ke media yang terletak di paling atas dengan bantuan pompa air atau dab.
3. Tidak membutuhkan lahan yang luas, karena hanya menggunakan nampan yang tersusun secara vertikal. Anda pun dapat melakukannya sendiri di rumah, cukup simpel dan praktis dibanding jenis budidaya yang lain.
Agar kapasitas produksi cacing sutra menggunakan nampan bisa maksimal, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa hal sebagai berikut,
1. Pilihlah nampan yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada di media tidak harus mengulang sedari awal budidaya yang pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 50 – 57 hari mulai dari proses awal hingga sampai panen.
2. Gunakan material rangka penyangga nampan yang kuat, yang tahan terhadap cuaca untuk mencegah rapuh atau roboh.
3. Aturlah jumlah nampan sebanyak mungkin, dengan tetap mempertimbangkan kekuatan rangka
4. Semakin banyak rak susunan nampan, tentunya semakin tinggi jumlah produksi cacing sutra.
Media tumbuh bisa dilakukan dengan membuat kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Setiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm. Atau wadah budidaya dapat dibuat dari bahan terpal.
Budidaya Cacing Sutra Media Nampan – sipendik
D. Pemupukan
(Mulai dari proses pemupukan hingga panen, kami menjelaskan budidaya cacing sutra menggunakan media terpal. bagi Anda yang ingin berbudidaya menggunakan media nampan bisa menyesuaikan berdasarkan jumlah dan ukuran nampan)
Sama seperti pada budidaya lainnya agar pertumbuhan cacing ini baik dan normal perlu dilakukan pemupukan. caranya yaitu Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ m2 untuk sumber makanan cacing. Cacing sutra sangat menyukai bahan organik sebagai bahan makanannya.
Cara pembuatan pupuk :
1.   Cara yang dilakukan dalam pembuatannya yaitu kita Siapkan kotoran ayam, lalu kotoran tersebut dijemur sekitar 6 jam tujuannya yaitu agar kotoran tersebut itu kering sehingga gas beracun yang ada dalam kotoran yang mungkin berbahaya itu dapat lenyap dan hilang karena menguap.
2.   Sebaiknya Siapkan bakteri EM4 atau fermentor lainnya untuk fermentasi kotoran ayam tersebut. Fermentor ini dapat anda beli dan banyak terdapat di toko Saprodi pertanian, perikanan, dan peternakan.
3.   Lalu Aktifkan bakterinya yaitu dengan cara menambahkan ¼ sendok makan gula pasir + 4ml EM4 + dalam 300 ml air setelah itu didiamkan sejenak sekitar kurang lebih 2 jam.
4.   Campur cairan itu ke 10 kg kotoran ayam yang sudah di jemur tadi, aduk hingga rata.
5.   Selanjutnya masukkan ke wadah yang tertutup rapat selama 5 hari maksudnya agar kotoran ayam dapat terfermentasi secara baik dan hasilnya sempurna.
E. Lakukan Fermentasi
Fermentasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menaikkan kandungan unsur N-organik dan C-organik hingga 2 kali lipat. Caranya adalah lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
F. Proses Penebaran Bibit
Supaya hasilnya bagus bibit cacing sutera ini ditebarkan secara merata. Diusahakan selama proses budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter/detik (arus lamban)
G. Cara Pemeliharaan cacing sutera yang baik
Budidaya ini bisa saja dilakukan oleh siapa saja namun dengan menggunakan sistim budidaya agar usaha budidaya cacing ini menghasilkan produk yang bermutu dan bagus sehingga jauh dari hama maupun penyakit, dan bebas bakteri patogen maka untuk Lahan perlu ada lahan uji coba.
1.   Lahan uji coba berupa kolam tanah/terpal berukuran 8 x 1,5m dengan kedalaman 30 cm.
2.   Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur (gunakan lumpur bebas limbah kimia).
3.   Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.
4.   Pipa Air Keluar (Pipa Pengeluaran/Outlet)dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik.Pipa Pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjangsekitar 15 cm.
5.   Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan danbenda-benda keras lainnya. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
6.   Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.
7.   Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dantidak terdapat lumpur yang keras.
8.   Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.
9.   Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudiansebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.
10.   Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuaipanjang pipa pembuangan.
11.   Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
12.   Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.
13.   Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalambaskom agar gumpalannya buyar.
14.   Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruhpermukaan kolam secara merata.
15.   Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.
H. Pakan Cacing Sutra
Karena cacing sutra termasuk makhluk hidup, tentunya cacing sutra tersebut juga membutuhkan makan. Makanannya adalah bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan. Cara makan cacing sutra adalah dengan cara menelan makanan bersama sedimennya dan karena cacing sutra mempunyai mekanisme yang dapat memisahkan sedimen dan makanan yang mereka butuhkan. Jadi kita juga harus menyediakan makanannya tersebut.
sil Panen Cacing Sutra Media Nampan -sipendik
I. Cara Panen Yang Baik Pada Cacing Sutra

Waktu diperlukan untuk melakukan panen cacing sutera dalam usaha ini dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bahkan panen bisa dilakukan setiap dua minggu sekali. Cara pemanenan cacing sutera dapat dilakunan dengan menggunakan serok tapi yang bahannya halus/lembut. Cacing sutera yang didapat dan masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan kedalam ember atau bak yang diisi air, kira –kira 1 cm diatas media budidaya agar cacing sutera atau cacing rambut naik ke permukaan media budidaya. caranya yatitu Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama enam jam. Setelah enam jam, cacing rambut yang menggerombol diatas media diambil dengan tangan. Dengan cara ini didapat cacing sutera sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu. Kemudian jika anda ingin melakukan sistim panen ini dapatberkesinambungan sebaiknya perlu dirancang sedemikian rupa sehingga panjang parit perlu diatur agar bisa memenuhi keperluan yang diharapkan untuk setiap harinya.

Mengapa Produksi Benih Di Tingkat UPR Rendah ?

I. PENDAHULUAN
Produksi benih sangat dipengaruhi oleh kualitas induk, menegemen kuakitas air, menegemen pakan dan pelaksanaan pemijahan, Pembenihan sendiri dimulau dari kegiatan persiaoan kolam pemijahan, persiapan dan pemilihan induk, persiapoan media penempel telur, pelajsanaan pemijahan, pengelolaan kualitas saat pemijahan, pembuahan telur dan penetasan telur, serta perawatan larva dan pemberian pakan sampai di kolam pendeeran



II. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI BENIH DI UPR
A. Derajad Pembuahan telur Rendah
Persentase  derajat  pembuahan  yang  tinggi  selain dipengaruhi   persentase   kematangan   akhir   telur   juga
dipengaruhi    oleh    kualitas    sperma.    Semakin    tinggi persentase  kematangan  akhir  dan  semakin  baik  kualitas spermatozoanya       semakin       tinggi       pula       derajat pembuahannya. Kematangan akhir  telur  juga  dipengaruhi  dari   pakan   yang   diberikan   kepada   induk.   Induk   ikan  gurame  yang  pakannya  di  tambah  vitamin  E  menunjukkan  derajat pembuahan telur yang tinggi dibandingkan dengan  yang    tanpa    diberi    vitamin    E.   Dari  kenyataan    ini menunjukkan  vitamin  E  mempunyai  fungsi  fisiologis  dalam  proses  pemijahan,  fertilisasi  dan  daya  tetas  telur.  Hal tersebut   menunjukkan   bahwa tokoferol   dibutuhkandalam jumlah besar sebagai antioksidan. Vitamin E dengan aktif   akan   terikat   pada   lipoprotein   selaput   sel   danorganella   subseluler   serta   terlibat   pada   pencegahanperoksida  phospholipid dari  pada  selaput  mitokondria,mikrosom
B. Daya Tetas Telur Rendah
Penyebab telur tidak menetas antara lain :
1)TELUR IKAN LELE BELUM MATANG
Penyebab Telur Ikan Lele Gagal Menetas yang pertamana adalah telur ikan lele belum matang. Dі dalam perut induknya, telur-telur mengalami stadia perkembangan уаng dikenal dеngаn sebutan TKG (Tingkat Kematangan Gonad). Bila peembudidaya lele salah dalam mengenali ciri-ciri induk betina уаng ѕudаh matang gonad, maka pemijahan ikan tеrѕеbut tіdаk аkаn menghasilkan telur уаng bіѕа berkembang menjadi larva. Tingkat kematangan telur ikan lele bіаѕаnуа gampang dikenali melalui warnanya. Telur уаng berwarna hijau kecokelatan menandakan keadaan уаng ѕudаh siap dibuahi sel sperma. Sеdаngkаn telur уаng bеlum matang warnanya hijau muda.
2) KUALITAS AIR MENURUN
Kualitas air berpengaruh besar terhadap keberhasilan telur dalam menetas menjadi larva. Contohnya saat pagi dan siang hari Andа melihat bеgіtu banyak telur-telur ikan уаng berhasil menetas tеtарі petang harinya situasi air berubah menjadi keruh dan beraroma busuk, maka telur-telur lainnya рun gagal menetas sebab keracunan amonia. Solusinya аntаrа lаіn memperluas ukuran kolam penetasan telor, mengalirkan air tаnра putus, atau menumbuhkan fitoplankton.
3) AIR MENGANDUNG LOGAM BERAT
Bila mendapati banyak telur ikan уаng menetas dі pagi dan siang harinya nаmun pada sore hari, beberapa telur tеrѕеbut gagal menetas. Padahal keadaan air tіdаk mengalami perubahan уаng tеrlаlu berarti.
Warnanya рun tіdаk berubah menjadi keruh serta tіdаk timbul bau уаng menyengat. Hal іnі mengindikasikan kаlаu terdapat kandungan logam berat dеngаn kadar tinggi dі dalam air. Pengujian dі lab ѕаngаt diperlukan untuk memastikannya.
Air уаng kita gunakan dі dalam akuarium penetasan seharusnya dіtambah Metylene blue untuk membasmi bakteri уаng menyerang pada telur.
Suplai oksigen dalam akuarium penetasan јugа seharusnya ѕеlаlu cukup untuk kebutuhan telur namun cara dеngаn metode tingkat aerasi serta kepadatan telur ikan dі akuarium.
4) SUHU TERLALU TINGGI
Fase telur pada ikan merupakan tahap уаng paling rentan mengalami kematian. Salah satu elemen уаng turut mempengaruhi penetasan telur ikan іаlаh temperatur media air уаng dipakai. Suhu air уаng paling tepat dі kolam penetasan іаlаh 21 derajat celsius. Suhu air уаng tеrlаlu tinggi аkаn memicu kematian pada telur-telur tersebut.
5) ADANYA SERANGAN JAMUR

Telur ikan mengandung protein уаng ѕаngаt tinggi. Telur іnі memicu spora-spora jamur уаng diterbangkan оlеh angin dan jatuh tepat kе telor bіѕа tumbuh dеngаn mudah. Telur ikan уаng terserang jamur dіtunjukan dеngаn selaput putih seperti kapas berwarna putih atau benang-banang halus ѕаngаt tipis уаng menetupi telur. Jamur semacam іnі аkаn dіjumpai pada telur уаng telah mati kerena jamur іnі аkаn berkembang biak pada jaringan уаng telah mati dan аkаn mengalami pembusukan. Telur-telur ikan уаng ѕudаh terkena serangan jamur bіаѕаnуа dipenuhi bintik-bintik putih. Pencegahannya bіѕа dijalankan dеngаn merendam telur dіlarutan melacyt green atau metyline blue selama bеbеrара detik. Untuk mengatasi hal іnі terjadi, air уаng ada dі akuarium penetasan, ѕеgеrа dіberi larutan antibiotik secukupnya. Telur уаng telah terserang jamur dan mati harus ѕеgеrа dіkeluarkan dеngаn sistem sipon dan pisahkan dаrі telur-telur уаng mаѕіh hidup
C. Mortalitas Benih Habis Kuning Telur dan Lepas Hapa Tinggi
Masa hari-hari awal dan minggu awal pemeliharaan lele yang baru menetas merupakan saat rawan kematian. Banyaknya faktor yang dapat memicu kematian pada benih lele yang masih berbentuk larva ini membuat peternak kadang tidak tahu pasti faktor mana yang menjadi penyebabnya. Kematian benih lele ini dapat berlangsung bertahap sedikit demi sedikit, ataupun kematian bibit dapat berlangsung secara massal nyaris bersamaan.
Umumnya usia di bawah satu minggu lebih rawan kematian, namun tidak menutup kemungkinan kematian juga menimpa anakan yang sudah di atas usia satu atau dua minggu. Berikut ini beberapa penyebab praktis kematian pada benih ikan lele dalam tahap pemeliharaan hingga siap menjadi bibit yang siap ditebar di kolam-kolam.
1.    Suhu yang tidak teratur pada air kolam dan lingkungannya, terlalu panas atau terlalu dingin
2.    Kualitas air yang digunakan untuk perawatan anak ikan lele jelek
3.    Kekurangan pakan
4.    Kelebihan pakan
5.    Pakan yang mengandung penyakit
6.    Kanibalisme sesama benih ikan
7.    Populasi yang terlalu sesak, atau kolam pendederan yang terlalu kecil
8.    Pembusukan pada sisa pakan
9.    Kekurangan oksigen
10.  Serangan penyakit, entah disebabkan oleh jamur, bakteri ataupun virus
11.  Kualitas induk yang digunakan
12.  Predator

Selain faktor di atas, meskipun tidak signifikan faktor luka mekanik seperti terjepit saringan, luka jaring dan luka saat grading dapat menjadi sebab-sebab kematian bibit ikan.
D. SR Rendah
Survival rate sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan, kualitas air, dan predator atau parasit yang ada. Benih ikan memiliki masa kritus dua yaiti masak kritis pertama pada benih habis kuning telur, dimana benih ini terjadi peralihan dari habisnya cadangan kuning telur dan menginginkan ada makanan yang tersedia di sekitarnya dengan ukuran dan kualitas memadai, jika tidak benih akan mati. Sedangkan masa kritus kedua adalah benih leas hapa yang dindahkan ke kolam penederan, jika ketersediaan pakan rendah benih juga mengalami kematuan.
III. UPAYA PENINGJATAN PRODUKSI BENIH
A. Meningkatkan Derajad Pembuahan Telur
Untuk meningkatkan derajad pembuahan telur dilakukan dengan upoaya sebagai berikut :
1) Perbandingan induk jantan dan betina seimbang
2) Penggnaan Induk jantan dan betina benar-benar sudah matang gonade
3) Peningkatan kandungan oksigen terelarut saat proses pembuahan telur berlangsung
B. Meningkatakan Daya Tetas Telur
1) Penetasan telur secara terkontrol
2) Peningkatan kandungan oksigen terlarut saat proses penetasan telur berlangsung
3) Melakukan treatmen telur agar terhindar dari jamur
4) Pengelolaan kualitas air sehungga air benar benar bersih dan jernih bebas dari lumpur
C. Menekan Angka Mortalitas benih Habis Kuning telur dan Lepas Hapa
 D. Meningkatkan SR
1) Peningkatan SR dilakukan dengan cara penyediaan dan pemberian pakan seimbang
2) Pengelolaan kualias air sesuai
3) Pengendalian hama dan penyakit ikan

Rabu, 08 Mei 2019

BETERNAK LELE MUTIARA

I.PENDAHULUAN
Lele mutiara, merupakan komoditi baru daru ikan lele yang merupakan hasil penelitian selama 5 tahun lamanya. Pemberian nama lele mutiara ini bukan tanpa arti, namun pemberian nama tersebut mencerminkan kualitas dan juga mutu dari ikan lele tersebut, yakni MU-tu TI-nggi tiada ta-RA.

Ikan Lele Mutiara ini memiliki daya tahan terhadap penyakit yang lebih baik dengan masa pemeliharaan yang lebih singkat. Ikan Lele Mutiara ini bisa dipanen saat usianya 40-50 hari setelah tebar benih, dan laju pertumbuhan ikan Lele Mutiara ini lebih cepat dibandingkan varietas lele pada umumnya.


Asal usul Lele Mutiara
Ikan Lele Mutiara ini merupakan hasil peneilitian yang dilakukan di Sukamandi Subang, Jawa Barat. Dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan jenis ikan lele baru yang memiliki keunggulan untuk budidaya nantinya. Lele Mutiara merupakan hasil perkawinan silang dari ikan lele mesir, paiton, Dumbo, dan juga Sangkuriang yang diseleksi selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan.
Keunggulan Lele Mutiara
  • Laju pertumbuhan sangat tinggi : mencapai 10-40% lebih tinggi dibanding ikan lele lain
  • masa panen singkat: benih ikan lele mutiara berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sementara pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari
  • Keseragaman ukuran relatif tinggi: untuk tahap produksi benih akan diperoleh 80-90% benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir akan diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80%
  • Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah : 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran.
  • Daya tahan ikan lele terhadap penyakit relatif tinggi: sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70% pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik).
  • Toleransi lingkungannya pun juga relatif tinggi: suhu 15-35 oC, pH 5-10, amoniak &lt; 3 mg/L, nitrit &lt; 0,3 mg/L, salinitas 0-10 ‰.
  • Untuk urusan produktivitas relatif tinggi: produktivitas pada tahap pembesaran 20-70% lebih tinggi jika dibandingkan benih-benih ikan lele lain.
II..KALSIFIKASI, DISKRIPSI, MORFOLOGI, DAN HABITATNYA
A. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum      : Chordata
Kelas       : Pisces
Ordo        : Ostariophysi
Famili      : Claridae
Genus      : Clarias

Spesies    : Clarias gariepinus Burchell
B. Diskripsi dan Ciri Morfologi

  • Lele mutuara memiliki bentuk tubuh memanjang, tida bersisik, serta licin
  • Matanya kecil dengan mukut di ujung moncong berukuran cukup lebar, dimana pada daerah sekitar mukut terdapat empat pasang baebel (sungut peraba) yang berfungsi sebagai sensor untuk peka terhadap lingkungan mauoun mangsa
  • lele mutuara mempunyai alat pernafasan tambahan berupa arborescent berasal dari busur insang yang telah dimodifikasi sehingga memungkunkan lele ini dapat bertahan lebih lama di lingkungan tanpa air maupun di lumour

C. Habitat
Habitat lele mutuara adalah air tawar, dimana lele ini suka pada air sungai, air tanah, air irigasi namn pada dasarnya lele ini relatif tahan pada kuaitas buruk serta tahan padat tebar tinggi.Kualitas air yang optimum untuk budidaya lele mutuara adalah sebagai berikut :

  1. suhu berkisar 15-35 derajad celcius
  2. kandungan oksigen terlarut > 0 mg/lt
  3. pH 5-10
  4. nitrit < 0,3 mg/lt
  5. NH3 < 3 mg/lt

III. CARA BETERNAK LELE MUTIARA
A. Persiapan Kolam
Sebelum mulai proses mengawinkan indukan ikan lele, ada baiknya dipersiapkan terlebih dahulu kolam khusus untuk tempat pemijahan. Kolam untuk percobaan tidak perlu terlalu besar agar memudahkan perawatan bibit lele jika nantinya dapat menetas dengan baik. Selain kolam pemijahan, calon induk lele jantan dan betina baiknya dioptimasi terlebih dahulu agar benar-benar dalam kondisi siap untuk memijah secara alami.
Kolam pemijahan
Pilih lokasi kolam di tempat dengan suasana tenang. Sebagian peternak lele menggunakan area khusus dengan atap plastik di atas kolam. Sebagian lagi lebih suka langsung di ruang terbuka tanpa atap langsung terpapar matahari atau hujan. Alasannya sederhana. Bibit lele yang tumbuh dan dapat bertahan hidup dalam panas dan hujan lebih tangguh dan kuat dibandingkan yang pertama.

Kolam untuk percobaan pemijahan ikan lele ini dibuat dari terpal ukuran 2 m x 3 m. Dengan ketinggian dinding kolam dibuat 40 cm, praktis ukuran kolam pemijahan tinggal kisaran 1,2 m x 2,2 m saja. Pada bagian bawah alas terpal dibuat lubang pembuangan dengan posisi pojok pinggir agar tidak banyak mengganggu pergerakan indukan lele. Saluran pembuangan ini nantinya sekaligus untuk kontrol ketinggian air jika nanti menggunakan model pancuran air mengalir untuk merangsang perkawinan ikan.
B. Persiapan Induk
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kualitas usaha pembenihan lele adalah pemilihan induk lele. Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam memilih induk lele yang baik untuk digunakan dalam pembenihan lele.
Induk lele yang baik
Induk lele yang baik setidaknya haru sudah berumur 7 bulan untuk jantan dan berumur satu tahun untuk betina, dengan berat badan antar 1000 sampai 2000 gram, memiliki bentuk badan simetris, tidak cacat, dan lincah Sebaiknya induk lele diambil dan dibesarkan di kolam sejak kecil, agar lebih mudah beradaptasi apabila dipindah dari kolam yang satu ke kolam yang lain, untuk dilakukan pemijahan.
Induk lele betina
Induk lele betina bisanya memiliki warna lebih terang dan kepala lebih besar dibanding dengan induk jantan. Tulang kepala agak pendek dan cembung, perut lebih gembung dan lunak, biasanya gerakannya agak lambat. Alat kelamin (urogenital papilla) berwarna kemerahan berbentuk oval berlobang agak lebar dan jelas terlihat di belakang anus. Apabila di bagian perut di stripping secara manual (diurut) ke arah ekor, akan mengeluarkan ovum/telur berupa cairan kekuning-kuningan.
Induk lele jantan
Induk lele jantan berwarna lebih gelap dan lebih halus, memiliki kepala yang lebih kecil, perut lebih langsing, dan gerakan lebih lincah. Alat kelamin (urogenital papilla) berwarna kemerahan berbentuk bebentuk memanjang ke belakang dan jelas terlihat di belakang anus.
Apabila di bagian perut di stripping secara manual (diurut) ke arah ekor, akan mengeluarkan spermatozoa berupa cairan putih dan kental.
Perawatan induk lele
Ada 3 hal penting yang perlu dilakukan untuk perawatan induk ikan lele, yaitu:
  1. Sebaiknya diberikan makanan yang berprotein tinggi semisal belatung, rayap, bekicot dan pelet atau pakan ikan buatan. Hindari pemberian cacing sutra untuk induk lele karena kandungan lemak pada cacing sutra terlalu tinggi.
  2. Untuk menghidari penularan penyakit, pisahkan induk yang lemah dan sakit, segera obati di kolam yang terpisah.
  3. Atur sirkulasi air bersih yang masuk.
MERAWAT INDUK LELE YANG BAIK
Salah satu syarat agar telur lele dapat menetas sempurna adalah pada pemilihan indukan lele betina yang sudah matang gonad dan pejantan yang sudah benar-benar siap pijah. Banyak para pembenih lele yang mengeluh karena hasil pemijahan kurang maksimal karena telur lele menjadi putih/bonor bahkan separo lebih telur yang tidak menetas. Tentu saja ini adalah masalah bagi petani lele. Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut? Berikut adalah tips perawatan induk lele agar cepat matang gonad, dari pakan sampai mengatur kualitas air.
Pakan induk lele
Agar induk lele cepat matang gonad salah satu yang harus diperhatikan adalah pakan. Untuk pakan harian biasanya kita beri pelet dengan kandungan protein 30%-33%. Untuk mempercepat proses telur agar matang gonad kita berikan nutrisi yang berupa pakan alternatif untuk induk lele. Dapat kita lakukan dengan cara:

  1. Pakan Alami yang dapat berupa keong mas, cacing tanah, ikan rucah dan daun pepaya.
  2. Pelet induk yang dibibis dengan susu ibu hamil.
Jika cara tersebut kurang praktis anda bisa memberi pakan induk lele dengan pelet yang berprotein tinggi, dapat menggunakan pakan kakap ataupun pakan khusus induk pf128 atau pakan bibit pf100/f999.
Mengatur kualitas air induk lele
Banyak petani lele yang percaya pada bulan-bulan tertentu induk lele kosong telurnya karena sudah melepaskan telur. Sebenarnya ini hanya pengaruh cuaca yang berubah dari musim hujan ke musim kemarau sedangkan perkawinan induk lele pada habitat aslinya adalah saat musim hujan. Untuk masalah ini dapat diatasi dengan mengaliri air tersebut 2 minggu sekali dengan membuang air bagian bawah sebanyak 20% agar ikan terbiasa dengan lingkungan yang dibuat seperti musim hujan.
Pematangan Telur
Salah satu penyebab kegagalan pemijahan yang dilakukan dengan teknik model alami adalah telur induk betina yang belum matang. Juga dari induk lele jantan yang ternyata belum siap untuk membuahi telur. Untuk itu sebelum proses pemijahan indukan lele perlu diberi pakan khusus yang banyak mengandung protein. Bekicot, keong mas, dan udang bisa menjadi menu untuk mempersiapkan indukan lele agar cepat matang. Ada pula pembibit yang suka memberikan katak atau kodok sebagai makanan untuk mempercepat proses kesiapan indukan ikan lele.
Indukan yang digunakan baiknya tidak berasal dari satu kolam, karena kemungkinan besar berasal dari satu pasangan induk yang sama. Ini dapat menurunkan kualitas bibit lele yang dihasilkan nanti, seperti lambatnya pertumbuhan, mudah sakit atau kekurangan fisik semacam bengkok-bengkok dan bungkuk pada tulang belakang ikan.
C. Pelaksanaan pemijahan
Bahan lain yang diperlukan dalam proses pemijahan adalah ijuk untuk induk lele meletakkan telur. Agar ijuk tidak berantakan dan tercerai berai, bisa dijepit dengan pasangan kayu atau bambu. Jika tidak ada bisa diganti dengan lapisan paranet yang dipasang di dasar kolam dengan tindihan batu-bata.
1.     Setelah tahap pemilihan selesai masukkan indukan ikan lele pada kolam yang telah diberi kakaban (bisa ijuk, daun kelapa atau pun genteng tanah) dan diisi air sekitar 30 cm. Lakukan proses pemilihan dan penempatan di kolam pada sore hari antara jam 3 sampai dengan jam 5 sore ( hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan indukan untuk beradaptasi terhadapa lingkungan barunya sebelum melakukan pemijahan dimalam harinya.
2.     Proses pemijahan akan terjadi pada rentang waktu antara tengah malam hingga dini hari. Yang perlu diingat selama induk lele berada di kolam pemijahan jangan memberikan pakan karena dapat memcu stres.
3.     Biarkan induk lele selama semalam di kolam pemijahan dan anda dapat memeriksa kolam saat pagi hari sekitar pukul 5 sampai dengan pukul enam. bila proses pemijahan berhasil akan tampak butiran-butiran kecil berwarna putih kekuningan yang menempel pada ijuk. Biasanya setiap indukan lele yang sehat dan baik akan mengelurkan telur antara 20.000 - 30.000 butir per Kg berat induk betina.
D. Penetasan telur
1.  Langkah selanjutnya adalah pengambilan indukan dari kolam pemijahan. Pengambilan indukan bisa menggunakan seser dengan syarat  lakukan setenang mungkin sehingga indukan tidak melakukan banyak gerakan yang dapat merusak telur di sekitarnya ( ada beberapa metode yang membiarkan indukan jantan tetap dikolam sampai umur tertentu, tetapi metode yg saya praktekkan adalah pengambilan semua indukan)
2. Induk lele yang telah diambil tersebut letakkan pada kolam terpisah (jangan dicapur dengan indukan lele yang lain). Hal tersebut dikarenakan proses pemijahan membutuhkan energi yang cukup besar sehingga induk lele dalam kondisi lemah dan riskan diserang oleh indukan lele lainnya.
3.Kembali mengenai telur yang berada dikolam pemijahan. Kolam yang berisi telur lele tersebut sebaiknya mulai diberi kucuran air untuk memberi pasokan oksigen ke air ( karena proses penetasan membutuhkan oksigen, hal itu pula yang mendasari air untuk pemijahan hanya 30 cm sehingga difusi oksigen dari udara bisa membantu proses penetasan.
4. Setelah 1 - 3 hari biasanya telur lele akan mulai menetas menjadi larva lele yang berwarna transparant . proses penetasan akan berlangsung bertahap memakan waktu 2 - 3 hari
5. Setelah proses penetasan selesai anda dapat mengambil kakaban yang berada di kolam dengan cara pengambilan sedikit digoyang"kan sehingga tidak ada larva lele yang menempel/ terbawa dikakaban (pengambilan kakaban diperlukan agar tidak timbul jamur yang menempel di kakaban dan menyebabkan larva terserang jamur)
6. Larva lele yang telah menetas tidak perlu diberi makan hingga umur 4 hari karena rentang pada rentang waktu tersebut ketersediaan makan untuk larva masih dipenihi oleh yolk (kuning telur) dari larva itu sendiri.
E. Perawatan Larva
Larva yang telah menetas biasanya berwarna hijau dan berkumpul didasar bak penetasan. Untuk menjaga kualitas air, maka sebaiknya selama pemeliharaan dilakukan pergantian air setiap 2 hari sekali sebanyak 50-70 %. Pergantian air ini dimaksudkan untuk membuang kotoran, seperti sisa cangkang telur atau telur yang tidak menetas dan mati. Kotoran-kotoran tersebut apabila tidak dibuang akan mengendap dan membusuk di dasar perairan yang menyebabkan timbulnya penyakit dan menyerang larva. Pembuangan kotoran tersebut dilakukan secara hati-hati agar larva tidak stress atau tidak ikut terbuang bersama kotoran.
Larva ikan lele hasil penetasan memiliki bobot minimal 0,05 gram dan panjang tubuh 0,75-1 cm, serta belum memiliki bentuk morfologi yang definitif (seperti induknya). Larva tersebut masih membawa cadangan makanan dalam bentuk kuning telur dan butir minyak. Cadangan makanan tersebut dimanfaatkan untuk proses perkembangan organ tubuh, khususnya untuk keperluan pemangsaan (feeding), seperti sirip, mulut, mata dan saluran pencernaan. Kuning telur tersebut biasanya akan habis dalam waktu 3 hari, sejalan dengan proses perkembangan organ tubuh larva. Oleh karena itu, larva ikan lele baru akan diberi pakan setelah umur 4 hari (saat cadangan makanan didalam tubuhnya habis). Pakan yang diberikan berupa pakan yang memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva agar larva ikan lebih mudah dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan, pakan ikan juga bergerak sehingga mudah dideteksi dan dimangsa oleh larva, mudah dicerna dan mengandung nutrisi yang tinggi. Salah satu contoh pakan yang diberikan pada saat larva ikan lele tersebut berumur 4 hari adalah emulsi kuning telur. Pada saat lele berumur 6 hari, maka dapat diberikan pakan berupa Daphnia sp (kutu air), Tubifex sp (cacing sutra) atau Artemia sp. Pakan tersebut diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 5 kali dalam sehari dan agar tidak mengotori air pemeliharaan, maka diusahakan tidak ada pakan yang tersisa
F. Pendederan Benih
·         Kolam untuk pendederan sebaiknya tidak terlalu luas agar memudahkan pengontrolan. Kurang lebih menggunakan ukuran 2×3 atau 3×4 m dengan kedalaman kolam 0,75-1 m. Kolam pendederan sebaiknya memungkinkan dipasangi peneduh seperti paranet, untuk menghindari kematian benih karena terik matahari di musim kemarau apalagi di lahan perkotaan. Menggunakan jaring yang halus agar benih tidak bisa melintas saluran air dan tidak ada hama dari luar yang terbawa masuk ke dalam kolam. Pengeringan kolam sebelum digunakan dengan cara kolam dijemur untuk menghilangkan bibit penyakit yang mungkin tersisa dari aktivitas sebelumnya. Apabila menggunakan kolam tanah, lakukanlah pengolahan tanah dan pemupukan dasar kolam. Pengisian air kolam untuk pembenihan ikan lele, dapat dilakukan secara bertahap.  Pada tahap awal isi kolam dengan kedalaman 20-30 cm.  Hal ini mengingat benih ikan masih sangat kecil, apabila kolam terlampau dalam, maka benih tersebut akan kesulitan  untuk berenang ke atas dan mengambil oksigen dari udara. Setelah benih membesar tambahkan kedalaman kolam secara bertahap, sesuaikan dengan ukuran benih ikan. Setelah berumur 3 minggu menetas di kolam pemijahan dan kepadatan tebar benih lele berkisar 300-600 ekor per-m2, benih ikan lele sudah bisa dipindahkan ke kolam pendederan. Memindahkan benih ikan ke kolam pendederan haruslah berhati-hati bisa menggunakan ember plastik, kemudian isi dengan air dari kolam asal hingga penuh. Ambil benih ikan gunakan jaring yang halus, lalu masukkan ke dalam wadah tadi.  Setelah wadah terisi penuh, angkat dan pindahkan wadah tersebut ke kolam pendederan. Langkah selanjutnya memiringkan agar air di dalam wadah menyatu dengan air kolam pendederan. Diamkan sejenak dan biarkan benih ikan berenang keluar dengan sendirinya dari dalam wadah.
DAFTAR PUSTAKA