Senin, 06 Agustus 2018

BETERNAK CACING SUTERA

I. PENDAHULUAN

Cacing sutra (Tubifex) biasanya sering disebut dengan cacing rambut atau cacing darah karena warnanya sendiri menyerupai darah. Untuk ukuran cacing ini memang tergolong sangat kecil, mengingat ukurannya hampir 11-12 dengan rambut dengan panjang sekitar 1-3 cm. Cacing ini hidupnya membentuk koloni seperti semut, di perairan yang jernih kaya akan bahan organik. Kandungan tubuhnya terdiri dari 57% protein serta 13% lemak, oleh karenanya komposisi ini merupakan komposisi yang pas untuk pakan ikan ternak maupun ikan hias.
II. SYARAT TUMBUH

Cacing sutra dapat hidup pada kondisi air yang mengandung lum
pur dengan tingkat kedalaman sekitar 0 – 4 cm. Yang perlu Anda ingat, peranan air dalam budidaya cacing sutra sangatlah penting guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Berikut ini kami sampaikan beberapa ciri khusus air yang bagus untuk digunakan sebagai tempat hidup cacing.
1.   Memiliki pH sekitar 5.5 – 8.0
2.   Pastikan suhu udaranya jangan terlalu tinggi, berkisar antara 25 – 280 C
3.   Kandungan oksigen pada air sekitar 2,5 – 7,0 ppm
4.   Kebutuhan akan jumlah debit air tidak terlalu besar, mengingat ukaran cacing sutra sangat kecil.
Cacing sutra termasuk hewan hermaprodit, yang perkembang biakannya melalui telur dengan proses pembuahan secara eksternal. Telur-telur yang dibuahi oleh pejantan lambat laun akan mengalami pembelahan menjadi dua sebelum akhirnya menetas.
III. CARA BUDIDAYA CACING SUTERA
A.Budidaya Cacaing Sutera di Nampan
1. Persiapan Pembibitan cacing Sutera
Anda bisa menemukan bibit cacing sutra di toko ikan hias, atau bisa juga langsung mendapatkannya di alam bebas dengan cacatan harus dikarantina terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari bakteri patogen. Langkah-langkah karantina yaitu cacing dialiri air bersih selama 2-3 hari dengan debit air yang kecil dengan kandungan oksigen cukup. Langkah ini dilakukan untuk menghindari resiko bakteri patogen dan menjaga kesehatan cacing sebelum siap untuk dibudidayakan.
2.  Persiapan Media Hidup
     Budidaya cacing sutra dengan media nampan sebetulnya sudah bukan hal baru,mengingat cara ini sudah dilakukan semenjak awal tahun 2013, namun baru populer di masa sekarang. Budidaya ini menggunakan sistem SCRS (Semi Closed Resirculating System). Sistem ini meruapakan metode pengolahan dan penggunaan kembali air yang dipakai pada proses budidaya cacing sutra. Pengisian air baru dilakukan ketika air dalam nampan mengalami penyusutan akibat penguapan atau evaporasi.
Budidaya cacing sutra menggunakan nampan memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:
Lebih hemat dalam pemakaian air
Air yang telah melalui susunan media pada media nampan ditampung pada wadah yang ada di bagian bawah rak dan selanjutnya dialirkan kembali ke media nampan yang paling atas dengan memakai pompa air atau dab.
2. Menghemat dalam Pemakaian Probiotik dan jenis Obat-obatan yang lain.
Probiotik dan obat-obatan yang telah dicampurkan pada media tumbuh atau substrat budidaya cacing sutra yang ikut kebawa arus air tidak langsung terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung di suatu wadah bagian bawah wadah rak bersama air dapat dipakai kembali dengan cara mengalirkan ke media yang terletak di paling atas dengan bantuan pompa air atau dab.
3. Tidak membutuhkan lahan yang luas, karena hanya menggunakan nampan yang tersusun secara vertikal. Anda pun dapat melakukannya sendiri di rumah, cukup simpel dan praktis dibanding jenis budidaya yang lain.
Agar kapasitas produksi cacing sutra menggunakan nampan bisa maksimal, sebaiknya Anda memperhatikan beberapa hal sebagai berikut,
1. Pilihlah nampan yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada di media tidak harus mengulang sedari awal budidaya yang pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 50 – 57 hari mulai dari proses awal hingga sampai panen.
2. Gunakan material rangka penyangga nampan yang kuat, yang tahan terhadap cuaca untuk mencegah rapuh atau roboh.
3. Aturlah jumlah nampan sebanyak mungkin, dengan tetap mempertimbangkan kekuatan rangka
4. Semakin banyak rak susunan nampan, tentunya semakin tinggi jumlah produksi cacing sutra.
Media tumbuh bisa dilakukan dengan membuat kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Setiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm. Atau wadah budidaya dapat dibuat dari bahan terpal.
C. Pemupukan
Pemupukan
(Mulai dari proses pemupukan hingga panen, kami menjelaskan budidaya cacing sutra menggunakan media terpal. bagi Anda yang ingin berbudidaya menggunakan media nampan bisa menyesuaikan berdasarkan jumlah dan ukuran nampan)
Sama seperti pada budidaya lainnya agar pertumbuhan cacing ini baik dan normal perlu dilakukan pemupukan. caranya yaitu Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ m2 untuk sumber makanan cacing. Cacing sutra sangat menyukai bahan organik sebagai bahan makanannya.
Cara pembuatan pupuk :
1.   Cara yang dilakukan dalam pembuatannya yaitu kita Siapkan kotoran ayam, lalu kotoran tersebut dijemur sekitar 6 jam tujuannya yaitu agar kotoran tersebut itu kering sehingga gas beracun yang ada dalam kotoran yang mungkin berbahaya itu dapat lenyap dan hilang karena menguap.
2.   Sebaiknya Siapkan bakteri EM4 atau fermentor lainnya untuk fermentasi kotoran ayam tersebut. Fermentor ini dapat anda beli dan banyak terdapat di toko Saprodi pertanian, perikanan, dan peternakan.
3.   Lalu Aktifkan bakterinya yaitu dengan cara menambahkan ¼ sendok makan gula pasir + 4ml EM4 + dalam 300 ml air setelah itu didiamkan sejenak sekitar kurang lebih 2 jam.
4.   Campur cairan itu ke 10 kg kotoran ayam yang sudah di jemur tadi, aduk hingga rata.
5.   Selanjutnya masukkan ke wadah yang tertutup rapat selama 5 hari maksudnya agar kotoran ayam dapat terfermentasi secara baik dan hasilnya sempurna.
Lakukan Fermentasi
Fermentasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menaikkan kandungan unsur N-organik dan C-organik hingga 2 kali lipat. Caranya adalah lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
Proses Penebaran Bibit
Supaya hasilnya bagus bibit cacing sutera ini ditebarkan secara merata. Diusahakan selama proses budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter/detik (arus lamban)
Cara Pemeliharaan cacing sutera yang baik
Budidaya ini bisa saja dilakukan oleh siapa saja namun dengan menggunakan sistim budidaya agar usaha budidaya cacing ini menghasilkan produk yang bermutu dan bagus sehingga jauh dari hama maupun penyakit, dan bebas bakteri patogen maka untuk Lahan perlu ada lahan uji coba.
1.   Lahan uji coba berupa kolam tanah/terpal berukuran 8 x 1,5m dengan kedalaman 30 cm.
2.   Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur (gunakan lumpur bebas limbah kimia).
3.   Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.
4.   Pipa Air Keluar (Pipa Pengeluaran/Outlet)dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik.Pipa Pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjangsekitar 15 cm.
5.   Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan danbenda-benda keras lainnya. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
6.   Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.
7.   Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dantidak terdapat lumpur yang keras.
8.   Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.
9.   Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudiansebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.
10.   Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuaipanjang pipa pembuangan.
11.   Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
12.   Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.
13.   Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalambaskom agar gumpalannya buyar.
14.   Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruhpermukaan kolam secara merata.
15.   Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.
D. Pakan Cacing Sutra
Karena cacing sutra termasuk makhluk hidup, tentunya cacing sutra tersebut juga membutuhkan makan. Makanannya adalah bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan. Cara makan cacing sutra adalah dengan cara menelan makanan bersama sedimennya dan karena cacing sutra mempunyai mekanisme yang dapat memisahkan sedimen dan makanan yang mereka butuhkan. Jadi kita juga harus menyediakan makanannya tersebut.
E. Cara Panen Yang Baik Pada Cacing Sutra
Waktu diperlukan untuk melakukan panen cacing sutera dalam usaha ini dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bahkan panen bisa dilakukan setiap dua minggu sekali. Cara pemanenan cacing sutera dapat dilakunan dengan menggunakan serok tapi yang bahannya halus/lembut. Cacing sutera yang didapat dan masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan kedalam ember atau bak yang diisi air, kira –kira 1 cm diatas media budidaya agar cacing sutera atau cacing rambut naik ke permukaan media budidaya. caranya yatitu Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama enam jam. Setelah enam jam, cacing rambut yang menggerombol diatas media diambil dengan tangan. Dengan cara ini didapat cacing sutera sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu. Kemudian jika anda ingin melakukan sistim panen ini dapatberkesinambungan sebaiknya perlu dirancang sedemikian rupa sehingga panjang parit perlu diatur agar bisa memenuhi keperluan yang diharapkan untuk setiap harinya.
Demikianlah artikel kami seputar Cara Budidaya Ikan Sutra Praktis dan Menguntungkan, semoga bermanfaat bagi pembaca. Selamat berbudiaya cacing sutra.


Senin, 23 Juli 2018

Jenis Penyakit Ikan Dan Cara Pengendaliannya


I. Pendahuluan
Hama yang biasanya menganggu ikan gurami adalah ikan liar pemangsa seperti gabus (Ophiocephalus striatur BI), belut (Monopterus albus Zueiw), lele (Clarias batrachus L) dan lain-lain. Musuh lainnya adalah biawak (Varanus salvator Dour), kura-kura (Tryonix cartilagineus Bodd), katak (Rana spec), ular dan bermacam-macam jenis burung. Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain.
Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasangi serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk dalam kolam.
Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau dimana suhu menjadi lebih lebi
Penyakit non parasiter adalah penyakit yang timbul bukan karena serangan parasit, tapi biasanya bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan. Penyakit ini bisa berupa pencemaran air karena adanya gas beracun seperti asam belerang atau amoniak, kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturanan. Untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh ikan yang dipelihara dapat diketahui dari pengamatan terhadap ikan. Bila ada gas beracun dalam air, ikan biasanya lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar.
Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.
II. Jenis Penyakit Yang Banyak Menyerang Ikan Gurami
A. Penyakit Argulus Indicus atau kutu ikan
Penyakit ini disebabkan oleh parasit Argulus Indicusyang sumber penularannya adalah udang renik. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama fish lae atau kutu ikan. Kutu ini akan menempel dan menggigit mangsa sehingga berdarah. Penularannya adalah melalui air dan melalui kontak langsung dengan ikan lain, biasanya penyakit ini sering muncul pada kolam ikan yang kualitas airnya buruk.
Cara penyembuhannya adalah dengan merendam ikanyang sakit ke dalam air garam 10 -15 g/liter selama 15 menit. Sebaiknya untuk menghindari ikan tertular kembali, anda menambahkan larutan garam 10 – 15 g/m2 untuk membunuh kutu air.
B. Penyakit Dactylogyrus dan gryodactylus
Dua nama ini adalah sejenis cacing parasit yang tumbuh berkembang dikarenakan kualitas air yang buruk, pakan ikan yang kurang atau kepadatan kolam yang terlalu penuh. JenisDactylogyrus menyerang insang ikan, gejalanya adalah menurunnya nafsu makan dan ikan gurami sering terlihat berbaring dengan dengan posisi insang yang terbuka, sedang jenis Gyrodactylus menyerang bagian sirip ikan.
Cara perawatannya adalah dengan memperbaiki kualitas air yang berada di kolam dengan menggantinya dengan air yang baru, dan menambahkan garam sebanyak kira2 40 gram/m2. Jika penyakit sudah sangat parah anda bisa merendam ikan dalam larutan garam selama 1 malam.
C. Mata Belo
Gejala awal serangan penyakit ini adalah ikan menjadi kurang aktif, malas, nafsu makan berkurang dan ikan sering ke atas permukaan air. Disusul dengan bola mata yang membengkak dan akhirnya ikan ini menjadi buta dan mati. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis cacing.
Cara pengobatannya adalah dengan menghentikan pasokan air selama 24 jam, lalu masukkan garam sebanyak 1kg/m2 , besok harinya air dikuras dan diganti dengan air yang baru.
D. Jamur
Pada tubuh ikan gurami yang terinfeksi jamur akan muncul benang – benang berwarna krem seperti kapas, biasanya pada kulit tubuh yang terluka. Jenis jamur yang menyerang ikan gurami adalah Saprolegnia dan Achyla. Jamur ini akan menyebabkan ikan menjadi lemah karena kurang makan, sehingga bisa memicu penyakit lain muncul.
Cara penyembuhannya adalah dengan memberikan garam ke dalam kolam dengan jumlah 400g/m2 selama 24 jam untuk kemudian diganti besok harinya, selain garam bisa juga dipakai malachyte oxalatesebanyak 1 mg/l air selama 12 jam. Bisa juga menggunakan larutan formalin 200 ppm selama 2 jam.
E. Bakteri
Jenis bakteri yang menyerang ikan gurami adalah bakteriAeromonas sp, dan Pseudomonas sp. Gejala yang muncul yaitu terdapat luka berdarah tubuh, perut membesar, lendir mencair , sisik mengelupas dan muncul borok ditubuhnya. Dalam jangka waktu dekat ikan akan melemah, mengambang di permukaan air dan akhirnya mati.
Pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan merendam ikan dalam larutan oxytetracycline 2 – 5 mg/l selama 24 jam, dan tindakan ini dilakukan berulang 3 kali. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan merendam ikan yang terinfeksi bateri dengan larutan matachite green oxalat 0,5mg/l selama satu jam , selang 1 jam kemudian deberi umpan makanan yang lebih dahulu diberi kandungan oxcytetracycline 60mg/kg pakan, dan diulang selama 7 hari berturut – turut.
F. Bercak Putih ( White Spot )
Jenis penyaki ini desebabkan oleh parasit yang bernama Ichthyophtbyrius. Ciri – ciri ikan yang terkena penyakit white spot yakni munculnya bercak – bercak putih pada bagian kulit. Biasanya ikan yang terkena serangan white spot akan menggosokkan badannya pada lingkungan di sekitarnya, serta mulut ikan gurami tampak kembang kempis seperti kekurangan oksigen.
Cara perawatan dari penyakit ini adalah dengan merendam ikan guramidengan ke dalam air yang diberi larutan formalin sebanyak 25 mg/l. dan di tambahkan malachine green oxalat sebanyak 0,2 mg/l selama 24 jam.
G. Parasit
Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurami adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi. Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacar. Parasit lainnya adalah bakteri Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thematoda yang berasal dari siput-siput kecil.
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Sementara pengobatan bagi ikan-ikan yang penyakitnya lebih berat dapat menggunakan bahan kimia seperti Kalium Permanagat (PK), neguvon dan garam dapur.
Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, petani di daerah Banyumas menggunakan laun lambesar (Chromolaena odorata (L), RM King & H. Robinson ) sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 untuk 1 masa tanam.

Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi tidak dilanjutkan mengingat dampak yang tidak baik kepada konsumen. Kalaupun diberikan obat-obatan tidak boleh langsung di jual kepada konsumen akhir. Penggunaan obat-obatan pada ikan konsumsi juga sebaliknya tidak diberikan apabila ikan hendak diekspor. Besarnya ikan-ikan konsumsi yang mati dibuang.
Sumber :
http://www.bibitikan.net/mengenal-hama-dan-penyakit-pada-budidaya-gurame-serta-cara-penanggulangannya/


Teknik Pembenihan Ikan Gurami

I. Pendahuluan
Ikan gurami (Osphronemus gouramy L) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dari keluarga Anabantidae yang banyak diusahakan di Indonesia sebagai komoditas ikan air tawar yang sangat potensial. Selain rasanya yang enak, ikan ini juga mudah diusahakan serta fasilitas budidaya mudah didapatkan. Ikan gurami berasal dari perairan Sunda/Jawa Barat dan banyak menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon, dan Australia.
Ikan ini mempunyai bentuk badan yang pipih dan lebar. Pada ikan yang sudah dewasa, lebar badannya hampir dua kali panjang kepala atau ¾ kali panjang tubuhnya. Benyuk kepala ikan gurami masih muda lancip ke depan, dan setelah tua menjadi dempak. Warna tubuhnya terutama dibagian punggung adalah merah sawo , sedangkan pada bagian perut berwarna kekuning-kuningan atau keperak-perakkan. Sepanjang sirip perut gurami akan mengalami perubahan menjadi sepasang benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Sirip yang keras menempel pada punggungnya sedangkan garis rusuknya 
II. Jenis-jenis Ikan Gurami
Jenis ikan gurami yang sudah dikenal masyarakat antara lain : gurami angsa, gurami jepun, gurami blausafir, paris, bastar, dan porselen. Empat terakhir banyak dikembangkan di Jawa Barat, Khususnya Bogor. Dibanding jenis lain, porselen lebih unggul dalam menghasilkan telur, jika induk bastar dalam tiap sarangnya hanya mampu menghasilkan 2.000-3.000 butir telur, ikan gurami jenis porselen mampu menghasilkan telur sebanyak 10.000 butir, oleh karena itu masyarakat menyebutnya sebagai top of the pop, dan paling banyak diunggulkan.
III. Syarat Tumbuh
Ø  Tinggi tempat 20-400 m diatas permukaan laut
Ø  Air tenang, bersih, jernih, dasar kolam tidak berlumpur (kekeruhan 40 cm), tidak tercemar
Ø  Kadar NH3 tidak lebih dari 0,02 %
Ø  pH air 6,5-8
Ø  Tanah tidak porous, cukup humus
Ø  Kemiringan tanah 3-5%
Ø  Temperatur optimum 25-300C
Ø  Kandungan oksigen terlarut lebih dari 2 ppm
Ø  Debiet air 3 lt/detik s/d 12 lt/detik
IV Teknik Pembenihan Ikan
A. Pengelolaan Induk
Induk-induk disimpan dalam kolam penyimpanan induk, setiap ekor membutuhkan kolam seluas 5 m2 dengan dasar kolam berpasir dengan kedalaman air sekitar 75-100 cm, Pakan yang diberikan adalah daun-daunan sebanyak 5% dari berat ikan. Makanan tambahan dapat diberikan berupa pellet sebanyak 0,5-1% dari berat ikan.
Ukutan berat induk jantan 2-3 kg/ekor dan betina 2-2,5 kg/ekor. Induk gurami dipijahkan 2 kali dalam setahun selama usia produktif (5 tahun). Induk gurtami tidak dapat dipijahkan lebih dari 10 kali karena fekunditas rendah dan mortalitas tinggi.
 B. Persiapan Kolam
Untuk menjamin keberhasilan usaha pembenihan ikan, maka perlu persiapan kolam seperti perbaikan pematang, pengeringan dasar kolam, pengolahan tanah dasar, pembuatan caren, dan perbaikan pintu air. Bentuk pematang trapesium dengan bagian bawah lebih lebar dibanding atas.
Dasar kolam dibuat caren, kubangan untuk mempermudah penangkapan benih saat panen. Lebar kubangan/caren/kowean adalah 40-60 cm. Pada saat persiapan kolam dikeringkan selama 5-7 hari sampai tanah benar-benar kering, sehingga pada saat diisi air akan terjadi bau ampo/petrichor, semacam lapisan minyak yang dapat merangsang induk ikan memijah.
Selain itu kolam dipupuk dengan pupuk kandang dengan dosis 500-1000 gr/m2 dan kapur 100-200 gr/m2.
C. Pemijahan Ikan
Setelah prose pematangan gonade telah mencapai puncak, dan kolam pemijahan sudah selesai dipersiapkan, maka pemijahan ikan segera dilaksanakan. Induk ikan dimasukkan ke dalam kolam pemijahan dengan perbandingan jantan dan betina 1 : p3-4 ekor dengan Padat tebar 1 pasang/20 m2
Induk akan membuat sarang setelah 15-30 hari sejak dilepaskan ke kolam pemijahan. Untuk itu perlu dipersiapkan bahan-bahan pembuat sarang seperti sosok/tempat meletakkan sarang, ijuk yang diletakkan di atas anjang-anjang yang dipasang 10 cm di atas permukaan air kolam.
Pemijahan akan berlangsung 2 hari setelah pembuatan sarang selesai, induk betina melepaskan telur ke dalam sarang kemudian jantan menyemprotkan sperma sehingga terjadi pembuahan. Pemijahan berlangsung selama 2-3 hari dan selama pemijahan berlangsung induk betina menjaga sarang.
D. Penetasan telur
Penetasan telur dapat dilakukan di bak plastik, baskom, hapa ataupun corong penetasan telur. Telur dapat diambil 1 hari setelah pemijahan kemudian dipisahkan dari sarang dan dicuci bersih lalu ditetaskan. Telur-telur akan menetas setelah 30-35 jam sejak pembuahan telur.
E. Perawatan Larva
Perawatan larva dilakukan sejak penetasan telur dengan mengganti air secara teratur satu hari satu kali, kemudia memberi pakan setelah cadangan pakan habis yaitu hari ke 5 berupa emulsi kuning telur atau infusoria.
F. Pendederan
Benih yang baru menetas dibiarkan di bak penetasan sampai hari ke-10 kemudian dipindah ke kolam pendederan yang telah dipersiapkan dengan padat tebar sebagai berikut :
Tabel 4. Padat Tebar, Tinggi Air dan Jenis Pakan
Tahap
Tinggi Air
Padat Tebar
Jenis Pakan
D1
30-40 cm
40-60 ekor/m2
Tubifex, tepung ikan , pellet halus, emulsi kuning telur
D2
40-50 cm
30-40 ekor/m2
Tepung ikan, bunghkil/pellet remah
D3
50-60 cm
20-30 ekor/m2
Pellet remah/pellet kecil
D4
60-80 cm
20 ekor/m2
Pellet/daun-daunan lunak
D5
80-100
20 ekor/m2
Pellet dan atau daun-daunan
G. Panen Dan Penanganan Hasil
Pemanenan benih selama pendederan darti masing-masing tahap adalah 3-4 minggu kemudian dilanjutkan untjuk pendederan pada tahap selanjutnya.
Tabel 5. Ukuran Tebar dan Panen Benih
Tahap
Ukuran Benih ditebar (cm)
Padat Tebar
Ukuran Benih
Waktu Panen (cm)
D1
Larva habis kuning telur
40-60 ekor/m2
1-3 cm
D2
1-3 cm
30-40 ekor/m2
3-5 cm
D3
3-5 cm
20-30 ekor/m2
5-7 cm
D4
5-7 cm
20 ekor/m2
7-9 cm
D5
7-9 cm
20 ekor/m2
9-12 cm
Sumber :
http://www.alamikan.com/2014/05/cara-pembenihan-budidaya-ikan-gurame.html
http://bbat-sukabumi.tripod.com/gurami.html